Widget HTML #1

3 Variabel Perilaku berlaku untuk semua Perilaku - Kebiasaan - Amal Perbuatan

Kebiasaan Baik VS Kebiasaan Buruk

          Apapun perilaku, kebiasaan maupun amal perbuatan itu mempunyai 3 variabel dan pola yang sama, Motivasi, Kemampuan dan Pemicu. Apakah itu perilaku baik maupun buruk, kebiasaan baik ataupun kebiasaan buruk. Tak ada yang berbeda. Konsep ini sangat penting bagi siapapun yang ingin berusaha mengubah kebiasaan yang - insyaa Allah - akan mengubah pula kehidupannya lebih baik dan lebih baik lagi. Ya, tentu saja bisa pula mengubah kehidupan ilmiah syariah dan amaliahnya.
          
          Baiklah, kita langsung ke contoh:

          Aku katanya dikenal sebagai sosok arsitek. Ya, memang itulah latar belakang sekolahku. Hanya saja aku "free lance" tidak bergabung dalam suatu konsultan arsitek besar.

          Aku memiliki kebiasaan, 
  • ingin sesekali mengubah suasana kerja sebagai arsitek (Motivasi tinggi)
         Sehingga terkadang aku menata ulang ruang kerjaku. 
  • Hanya saja karena, yang ditata ulang terkadang perabotan ruang kerja, buku-buku, barang-barang alat tulis kantor yang begitu banyak (Pemicu, konteks benda-benda)
          akhirnya aku mengerjakannya tidak sekali kerja. Aku lakukan sesantai mungkin, dan jangan sampai mengganggu pekerjaan utamaku dalam mengerjakan order-order desain. 
  • Sehingga penataan ulang ruang kerja, biasa aku lakukan dengan "dicicil". Tidak langsung hari itu selesai dan rapi. Namun aku lakukan bertahap, seluang waktunya dan sebisanya. Jika belum selesai hari itu, aku lanjutkan keesokan harinya. Begitu seterusnya sampai selesai (Kemampuan mudah dilakukan). 
          Saat telah selesai dan rapi, misalkan suatu hari, lalu keesokannya aku mulai kerja dengan ruang kerja penataan baru, aku merasakan semburan energi. Ruang kerja seperti benda hidup, yang berkata, "Kamu siap memulai hari ini, dengan energi baru, in sya Allah hari ini, kebaikan dan kebarokahan akan ada padamu."      

          Ketika, aku bertanya pada diriku sendiri, "Apakah kebiasaan menata ulang ini, aku lakukan dengan berat?" akupun menjawab dalam kalbuku, "Oh tidak, aku sekedar melakukannya dan memulainya di suatu hari, dan sesantai mungkin, dicicil berhari-hari, disesuaikan kegiatan utamaku." 
    
          Aku tak terlalu memikirkan kebiasaan merapikan, menata ulang ruang kerjaku. Bahkan, setelah agak lama, barulah hal tersebut menyadarkan aku bahwa itu kegiatan yang positif.   
     
          Namun, ketika aku mencoba merenungkan tentang kebiasaanku, aku merasa terkadang ada kebiasaan yang kontraproduktif, kebiasaan yang sebetulnya aku tidak inginkan. Aku juga heran, mengapa di tengah-tengah hal-hal yang positif, ada aja hal buruk menjadi kebiasaanku.

          Apakah itu?

          Mungkin jika dikatakan buruk, tidak juga, tetapi kurang bermanfaat sehingga kebiasaan tersebut sia-sia. Boleh jadi kita sebut sebagai kekurangan, dalam hal perilaku atau kebiasaan.

          Yaitu, "Melihat, dan membuka HP, ketika baru bangun tidur, di tempat tidur. Membuka-buka aplikasi medsos, membaca komentar-komentar teman yang kurang bermanfaat. Aku sangat membencinya, tetapi aku tak bisa menghentikan perilaku tersebut."

          Mengapa itu bisa tejadi?

          Semua itu dimulai, 
  • karena HP ada alarmnya (Pemicu, konteks benda). 
         Saat HP berbunyi, aku mengambil dari meja kecil di samping tempat tidur. Mematikan alarm. Menaruh kembali HP. Lalu melakukan ritual bangun tidur menurut Islam. HP yang tergeletak, seolah-olah ada tangan yang melambai-lambai mengajak membukanya. 
  • Ya, aku bukalah, medsos dan medsos. (Kemampuan mudah dilakukan)
          Padahal, aku telah membuat suatu resolusi cetar membahana, untuk melakukan beberapa kegiatan setelah bangun tidur. Di antaranya, menulis ilmu, setiap hari. Beberapa hari aku melakukannya, beberapa melewatkannya. Itu bukan karena aku memutuskan untuk tak melaksanakannya, melainkan karena aku terisap dalam pusaran sinyal digital meskipun telah bangun awal. 
  • Angka-angka merah notifikasi seakan menjerit-jerit, merengek-rengek untuk diperhatikan, direspon (Motivasi tinggi)
          Satu tap akan membawa ke sebuah komentar, yang akan membawa ke link-link lain yang telah disertakan bersama komentar-komentar. Tahu-tahu azan berkumandang.

          Hari yang baru, telah dimulai dengan tidak melakukan janji pada diri sendiri untuk menulis ilmu, entah sembarang satu paragraf. Mulailah aku mengkritik diri sendiri dengan perasaan bersalah. Aku tak suka tenggelam dalam jebakan pola tersebut. Sisi kalbuku yang lain menentang, "Tapi khan aku berhasil dalam hal-hal yang positif, ... buktinya ruang kerjaku sensntiasa ada desain baru, tata ruang dalam gres."
          
          Nah, sekarang kita renungkan kedua kebiasaanku itu secara serempak:

Menata ulang ruang kerja
Tak bisa berhenti membuka HP
          
          Dua kebiasaan dengan dua perasaan yang sangat berlawanan.

✓ Satu kebiasaan membuatku merasa senang, merasa bahagia, dan membantu mencapai aspirasi yang lebih besar dalam hal produktivitas kerja. Kebiasaan beres-beres dan merapikan ulang ruang kerjaku ini menjadi begitu otomatis sehingga aku tak merasa dibebani pikiran apapun.

✓ Bertentangan dengan itu, melihat isi HP itu menyenangkan ketika dilakukan, tetapi membuat kecewa terhadap diriku sendiri setelahnya. Membuka aplikasi medsos di tempat tidur membuatku galau, tetapi seringkali aku tidak mampu menahan diri untuk tidak melakukannya. Hal ini mirip keburukan yang sulit ditahan untuk melakukannya, karena ganjaran enaknya langsung dirasakan, sedangkan imbalan hukumannya nanti-nanti, berupa perasaan kecewa.
          
          Perilaku tersebut terasa sangat bertentangan bagiku. Namun, coba kita amati bahwa, variabelnya sama. Semua perilaku atau kebiasaan digerakkan oleh tiga variabel yang telah disampaikan sebelumnya. Dan, akhirnya akupun mendapatkan kebiasaan ketiga yang tidak jelas kekonsistenannya, kebiasaan menulis ilmu. Kebiasaan menulis ilmu yang telah didesain buruk dengan penghambat atau penghalang kebiasaan buka HP di tempat tidur, setelah bangun tidur.
          
          Motivasi, Kemampuan, dan Pemicu masing-masing orang akan berbeda dalam berbagai macam situasi, bisa pula tergantung budaya dan usia. Hanya saja tiga variabel itu tetap menjadi dasar terjadinya perilaku dalam kondisi apapun.

Menata ulang ruang kerja

          Pertama, yang perlu kita perhatikan adalah kebiasaan sang Aku merapikan ruang kerja. Hal itu memberitahu kepada kita:


Motivasi dan Kemampuan bekerjasama sehingga terjadi tindakan. Kita bisa lihat, 
  • jika Motivasi cukup atau tinggi yakni keinginan adanya suasana kerja baru
  • dan Kemampuan  di posisi mudah dilakukan, yakni bisa dicicil sambil bekerja
  • dan adanya Pemicu konteks benda-benda berupa perabotan ruang kerja, buku-buku, barang-barang alat tulis kantor yang begitu banyak, 
  • maka, perilaku tersebut akan terjadi atau tereksekusi.
✓ Misalkan kita, 
  • mempunyai Motivasi tinggi, seperti keinginan menata ulang ruang kerja, 
  • tetapi tidak memiliki Kemampuan, misalkan sakit. Kita akan jatuh di posisi sulit dilakukan
  • Dan, ada perasaan frustasi jika ada Pemicu untuk  melakukannya, berupa perabotan ruang kerja, buku-buku, barang-barang alat tulis kantor yang begitu banyak. 
✓ Di sisi lain, 
  • jika kita mampu melakukan perilaku tersebut yakni di posisi mudah dilakukan, seperti badan sehat,
  • tetapi Motivasi rendah atau sama sekali tak punya Motivasi, tak ada keinginan menata ulang ruang kerja, 
  • walaupun ada Pemicu, berupa perabotan ruang kerja, buku-buku, barang-barang alat tulis kantor yang begitu banyak,  
  • kita tak akan melakukan perilaku tersebut. Pemicu itu hanya seperti semacam gangguan.
✓ Sehingga dpatlah dipahami, yang membuat perilaku tereksekusi adalah; 
  • kombinasi antara Motivasi yang semakin tinggi dan Kemampuan yang semakin mudah dilakukan. 
  • Sehingga perilaku akan terjadi.
          Setelah ini kita akan lanjut, melihat perilaku membuka HP, dan medsos ketika di tempat tidur sang Aku          
          

Tak bisa berhenti membuka HP

          Coba amati perilaku tersebut. 
  • Motivasi setinggi-tingginya,
  • dan Kemampuan tinggi pula pada posisi mudah dilakukan
  • Daaaan, Pemicu yang sangat dapat diandalkan: alarm HP berbunyi setiap hari, pada pukul yang sama.     
          Ketika kita melihat pola tersebut, sangat masuk akal 
  • mengapa sang Aku yang usaha jasa arsiteknya telah berjalan, jika tidak bisa dikatakan berhasil, ya cukup lancarlah, memiliki kompeten pada bidangnya, bahkan dikatakan - sang Aku pernah menjalani test bakat di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia - dahulu sekolahnya dulu berbakat di arsitektur, 
  • kok mengalami kesulitan mengusir kebiasaan melihat HP ketika bangun tidur, di tempat tidur?    
          Dan, kita bisa lihat mengapa kebiasaan tersebut mampu bertahan. Jika tak ada yang diubah - variabel perilaku - , kemungkinan besar sang Aku akan terus membuka HP, dan resolusi kebiasaan menulis ilmunyapun terlantar, tersendat-sendat, goncang dan tak konsisten.

Mendesain Perilaku atau Kebiasaan

          Untuk itu, kita harus melakukan 2 hal:

1. Menghancurkan perilaku kebiasaan melihat HP.
2. Mendesain ulang perilaku kebiasaan menulis ilmu.

          Yang perlu diingat adalah;
 
tidak ada satu solusi untuk satu perilaku kebiasaan, maksudnya yang bisa dilakukan adalah berbagai alternatif manipulasi trik pada variabel perilaku. 

✓ Dan, tugas kita adalah menyesuaikan variabel-variabelnya, yaitu; Motivasi, Kemampuan dan Pemicu. 

✓ kemudian mencari kombinasi mana yang paling pas dalam suatu situasi untuk menimbulkan perilaku kebiasaan yang kita inginkan atau menghancurkannya.

          Misalkan, 

✓ kita harus mendesain konteks lingkungan yang membuat melihat HP sulit dilakukan, dengan kata lain Kemampuan ke arah sulit dilakukan.

          Atau,

mengubah Motivasi untuk melihat HP menjadi rendah.

          Baru setelah itu, kita bisa memeriksa perilaku kebiasaan menulis ilmunya.
         
          Nah, sekarang kita analisis lebih detail.

Motivasi dan Kemampuan memiliki Hubungan Kompensasi (saling menyeimbangkan)

          Begitu kita memahami dan menyadari prinsip ini bekerja, kita akan bisa mendesain perilaku kebiasaan apapun yang kita inginkan. Tentu saja, termasuk perilaku kebiasaan Belajar dengan Menuliskannya. Berikut prinsip-prinsip antara Motivasi dan Kemampuan;

1. Motivasi

  • Semakin besar Motivasi untuk melakukan suatu perilaku kebiasaan atau perbuatan, 
  • semakin besar pula kemungkinan melakukan perilaku tersebut.
          Ketika Motivasi tinggi, kita tidak hanya bertindak saat ada Pemicu, tetapi kita juga sanggup melakukan hal-hal yang sulit sekalipun, dalam artian dengan Kemampuan di posisi sulit dilakukan

Kita mungkin pernah mendengar berita, seorang ayah melindungi anaknya dari bencana alam gempa bumi, sehingga anak tersebut terselamatkan dari reruntuhan bangunan. Bahkan, diberitakan sang Ayah meninggal dalam posisi membungkuk, sedangkan di bawahnya ada anaknya yang selamat masih hidup segar bugar, terlindungkan oleh badan ayahnya. 

          Adrenalin Motivasi menyembur, spekulasi tinggi, tetapi hal (Kemampuan) yang sulit dan genting mampu tereksekusikan.

          Sebaliknya, ketika Motivasi sedang-sedang saja, kita akan melakukan suatu perilaku, hanya jika perilaku tersebut cukup mudah - seperti kebiasaan sang Aku menata ulang ruang kerjanya - yang telah disebutkan di atas.

2. Kemampuan

  • Semakin sulit suatu perilaku kebiasaan dilakukan, 
  • semakin kecil kita melakukannya.
          Suatu waktu, ada pesan singkat di HP dari teman, "Bagaimana hasil cetakan kitab yang dicetak percetakan yang di Jogja?"

          Langsung, aku foto beberapa halaman kitab, dan tak lupa cover kitab atau sampul kitab hasil cetakan percetakan tersebut, juga aku foto.
          
          Akankah aku menfotokan kitab tersebut untuk dikirim ke teman? 

          Tentu. Hal itu, mudah sekali, hanya membutuhkan: mengambil kitab hasil cetakan percetakan di Jogja di rak buku, buka aplikasi foto, buka halaman kitab, "Cekrek ...," buka sampul kitab, "Cekrek ...," dan send. Beres.

          Hanya gangguan kecil terhadap kegiatanku. Ndak masalah. Bukan masalah besar, mudah dilakukan.
          
          Sekarang, misalkan - misalkan ya, karena tak ada contoh kejadian nyata - teman tersebut meminta kita membacakan seluruh isi kitab tersebut keras-keras untuk diperdengarkan via HP, dan teman mendengarkan di seberang sana, reaksi kita tentu akan berbeda. Kita sangat butuh Motivasi yang tinggi untuk melakukan perilaku tersebut. Motivasi tinggi itu akan terdongkrak, jika misalkan teman kita itu terganggu penglihatannya sehingga tak bisa membaca, atau kita ditawari bayaran sekian rupiah untuk melakukannya, dan sebagainya. Hal-hal tersebut mungkin saja efektif untuk terjadinya perilaku tersebut.
  • Kesimpulannya: Kita butuh Motivasi tinggi untuk melakukan hal yang sulit. Semakin berat perilaku, semakin kita perlu Motivasi besar.
          Sehingga kebalikan dari itu adalah:
  • Semakin mudah suatu perilaku untuk dilakukan, semakin besar pula kemungkinan perilaku tersebut menjadi kebiasaan.
          Dan, ini berlaku untuk; 
  • kebiasaan baik seperti belajar dengan menulis, 
  • maupun kebiasaan buruk seperti membuka-buka medsos tanpa manfaat. 
  • Perilaku tetap perilaku, semua bekerja dengan cara sama, gabungan dari tiga variabel di atas.
          Renungkan kebiasaan sang Aku melihat isi HP, medsos dan medsos di tempat tidur. 
  • Sang Aku mengambil HP karena alarmnya (Pemicu), 
  • sebagai langkah berikutnya melihat medsos di HP (Perilaku kebiasaan), 
  • dan sangatlah mudah dilakukan (Kemampuan). 
  • Tentang keinginannya (Motivasi)? Jangan tanya!
   

3. Motivasi dan Kemampuan bekerja sama bagaikan satu tim

          Kita butuh memiliki Motivasi dan Kemampuan, agar suatu perilaku terjadi. Namun, Motivasi dan Kemampuan bisa saling mengisi seperti satu tim kerja yang solid. Jika salah satunya melemah, yang lain butuh ditekan agar menjadi lebih kuat.
          
          Dengan kata lain,

Besarnya satu variabel yang kita miliki memengaruhi besarnya variabel lain yang kita butuhkan.
          
          Dengan memahami hubungan antara Motivasi dan Kemampuan menjadi kunci kepada cara-cara baru dalam menganalisis dan merancang perilaku kebiasaan. Termasuk kebiasaan Belajar dengan Menulis. Jika kita mempunyai salah satu variabel dalam jumlah kecil, kita membutuhkan variabel yang lain dalam jumlah yang lebih besar. Keseimbangan asimetris.
          
          Kebiasaan sang Aku, menata ulang ruang kerjanya, akhirnya menular kepada kebiasaan beres-beres rumah. Setiap ada yang berantakan sedikit, dan yang berantakan itu berada di lintasan kesibukan sehari-hari, langsung mata dan tangan rasanya "gatel" ingin beberes. Karena itu, sedikit saja ada barang yang berantakan, langsung ditaruh di tempatnya kembali. Itu pun sambil lalu, karena sambil melakukan kegiatan utama, dan berada di lintasan kegiatan tersebut. Maka, kebiasaan tersebut 
  • tidaklah membebani. Artinya bukan sesuatu yang membuat pekerjaan utama terlantar, 
  • karena itu kecil dalam hal waktu maupun perbuatan
  • Motivasi cukup, dan mudah dilakukan. 
          Kemampuan melakukan kebiasaan beres-beres dimulai 
  • dari ranah mudah
  • dan semakin sering dilakukan, prosesnyapun menjadi semakin efisien dan efektif
          Secara umum, 
  • semakin kita sering melakukan suatu perilaku, 
  • semakin mudah perilaku tersebut dilakukan, 
  • akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang otomatis dilakukan, 
  • tanpa pikiran sadar
  • tetapi telah terkendali oleh pikiran bawah sadar.
          Bayangkan, 
  • awalnya kecil, mudah, di lintasan kegiatan, 
  • kemudian berulang-ulang (repetisi) sering dilakukan 
  • sehingga semakin mudah
  • akhirnya sangat mudah
  • bahkan terasa ringan tanpa terasa.
          Bahkan ada yang mengungkapkan dari guru kita, 
          "Jika sering bersentuhan dengan sesuatu, maka hilang rasa pada sesuatu itu." (Ucapan al-Ustadz Usamah Mahri dalam Kajian Raudhatul Uqala' karya Ibnu Hibban al-Busti). Subhanallah.
          
          Sekarang, perhatikan, bahwa bisa kita lihat bagaimana suatu perilaku dilakukan terjadi seiring waktu. Sebagian besar perilaku menjadi lebih mudah jika dilakukan berulang.

          Bahkan, di hari-hari dimana Motivasi sang Aku ngedrop, kebiasaan beres-beres itu masih cukup mudah.
          
          Satu hal penting: 

Seandainya sang Aku memulai perilaku beres-beresnya dengan membereskan, merapikan seluruh rumahnya, ia tak akan bisa mengembangkan perilaku beres-beres itu menjadi kebiasaan. Ketika ia butuh melakukan kegiatan utamanya, sang Aku akan melewatkan beres-beres seluruh rumah tersebut.

4. Tak ada Perilaku yang terjadi tanpa Pemicu

          Jika tak ada Pemicu, mau setinggi apapun Motivasi dan Kemampuan kita tak ada gunanya. Kita harus terpicu untuk bertindak atau tidak sama sekali. Tanpa pemicu, tak akan ada perilaku. Pemicu ibarat pemantik, kecil tetapi menyentak, menyulut kuat.
          
          Motivasi dan Kemampuan merupakan variabel yang musti selalu ada, untuk perilaku apapun. 
  • Saat alarm HP berbunyi sebagai Pemicu, Motivasi dan Kemampuan sang Aku untuk merespon selalu ada, siaga di latar belakang
  • Pemicu itu bagaikan sambaran petir, datang dan pergi. 
  • Jika sang Aku tak mendengar alarm HP berbunyi, sang Aku tak akan bertindak.
          Kita bisa menghentikan perilaku yang tak kita inginkan - membuka HP dan medsos - dengan mengenyahkan Pemicunya. Namun, ini tidak selalu mudah. Menyingkirkan Pemicu adalah langkah pertama terbaik untuk menghentikan perilaku.
 

Menggunakan Model Perilaku untuk menghancurkan Kebiasaan buruk

          Kini, kita telah tahu bagaimana Motivasi dan Kemampuan "gotong royong", dan bagaimana Pemicu itu sangat penting bagi perilaku.
          
          Kita kembali kepada sang Aku. Bagaimana caranya ia mampu melenyapkan kebiasaan melihat HP dan membuka-buka medsos yang kurang bermanfaat di tempat tidur? Motivasinya tinggi, Kemampuannya cukup mudah. Maka, ia seolah-olah menempatkan kebiasaannya sangat mungkin terjadi. 
 
          Apa yang bisa kita ubah untuk menggagalkannya? Motivasi?

          Kecil kemungkinannya. Perasaan senang yang didapatkannya, saat melihat seseorang memberi jempol, atau sekedar komentar di medsos yang kurang manfaat bagi sang Aku, tidak akan hilang begitu saja. Sang Aku ingin terus mengikuti kabar dari teman-teman atau follower nya yang telah mencapai ribuan. Dan medsos memang telah melakukan itu untuk sang Aku. Maka, sang Motivasi kemungkinan tetap tinggi, enggan untuk ditekan ke posisi rendah. 

***

Interupsi!

         Terkait Motivasi ini, ada bahasan khusus mengenai permasalahan;  
  • Kalbu - Hati - Iman - Pikiran
  • Iradah - Kemauan - Hasrat - Motivasi - Niat Sadar 
  • dan Karakter, Sifat atau Watak - Bawah Sadar
          Karena di sini ada peran Kalbu yang ada 3 jenis, dan pertempuran antara tentara Malaikat dengan pasukan Iblis dalam memenangkan kebiasaan baik di atas kebiasaan buruk.

***

Manipulasi Trik Kemampuan dan Pemicu

        Baik, sementara kita kembali ke 3 variabel perilaku. Dan, kita anggap dulu 
  • Motivasi kepada kebiasaan buruk tinggi, 
  • dan motivasi terhadap kebiasaan baik rendah, 
  • yakni ada peran pasukan Iblis yang bercokol di pusat kalbu
  • karena terbukanya pintu keburukan syahwat ke dalam kalbu. 
  • Dalam artian mempunyai karakter, sifat atau watak bawah sadar syahwat yang buruk.
          Sehingga kita butuh bantuan - sementara waktu ini - dengan manipulasi trik Kemampuan, dan jika berhasil, setelahnya mulai memperkuat dari sisi Niat sadar, Motivasi, Iman dan Keyakinan.

          Bagaimana dengan Kemampuan?
          
          Nah! Di sinilah kita menemukan peluang besar untuk perubahan.
          
          Sang Aku, 

>>> bisa menghapus AKUN aplikasi medsos. Sehingga melihat newsfeed aplikasi medsos tersebut menjadi mustahil. Akan tetapi, mungkin itu terlalu ekstrim, karena sang Aku merasa suatu saat masih membutuhkan aplikasi medsos tersebut untuk, misalkan propaganda hal-hal yang terkait kegiatan belajar dan menulis.
          
>>> Maka, sang Aku akhirnya hanya menghapus APLIKASI medsos dari HP nya. Ada beberapa aplikasi medsos yang dia hapus. Keinginan kuat untuk menghilangkan kebiasaan buruk tersebut, di samping medsos-medsos tersebut selalu menyabotase kebiasaan menulis ilmu yang ia ingin tumbuhkan, medsos-medsos tersebut sering memunculkan iklan yang seronok dengan tiba-tiba, membuat sang Aku tanpa sengaja memandang hal-hal yang diharamkan oleh Islam. 
          
>>> Dan, sebetulnya masih ada beberapa cara untuk membuat melihat HP di tempat tidur menjadi sesuatu yang lebih sulit dilakukan. 
✓ Sang Aku bisa meletakkan HP nya di meja di ruangan sebelah ruangan dimana ia tidur.
✓ Atau, mau lebih ekstrim lagi, ia bisa meletakkan HP nya di dapur.
✓ Dan sebagainya.
          
          Karena Motivasi sang Aku untuk melihat HP begitu tinggi, maka ia mesti 
  • bereksperimen dengan banyak pilihan berbeda
  • sebelum menemukan solusi yang paling efektif untuk menyulitkan Kemampuannya
  • Menjeda jarak fisik di antara sang Aku dan HP nya menjadikan perilaku melihat medsos di HP lebih sulit dilakukan.
          Bagaimana dengan alarm HP untuk membangunkan sang Aku lebih awal? 
  • Dengan sisipan jarak fisik terhadap HP nya, tentu ia tak bisa mendengar bunyi alarm yang telah ia setting saban hari.
  • Dia dapat menggantikannya dengan jam beker tradisional untuk membangunkannya, 
  • sebagai melenyapkan Pemicu perilaku tersebut.
          
          Jika kita tak bisa mengubah satu variabel perilaku - dalam hal ini Motivasi - kita bisa fokus mengubah variabel yang lain, yaitu Kemampuan dan Pemicu. 
          
          Ternyata, 
  • sang Aku memilih melakukan dengan menghapus aplikasi-aplikasi medsos tersebut. 
  • Maka, hancurlah kebiasaan buruk tersebut, 
  • dengan hanya menyulitkan variabel Kemampuan
  • Alarm Pemicu, masih ia bisa gunakan untuk membangunkan dirinya lebih awal tanpa meletakkan HP jauh darinya. Dan, tanpa membeli jam beker tradisional.
          Bagaimana kebiasaan menulis ilmu syar'i yang sang Aku ingin tumbuhkan? 

          Ternyata, 
  • ia tak membutuhkan pengubahan apapun
  • Begitu kebiasaan melihat medsosnya hancur
  • sang Aku mampu memulai dengan kebiasaan menulis imu syar'i,  dengan rencana-rencana yang telah ia tetapkan secara konsisten.
          Dengan, mengutak-atik variabel-variabel perilaku, kita bisa:

mendesain hampir seluruh perilaku yang kita inginkan, termasuk kebiasaan belajar ilmu syar'i dengan menulis.

✓ Dan, menghentikan sebagian besar perilaku yang tidak kita inginkan, termasuk perilaku-perilaku yang Allah Subhana wa ta'ala tidak ridhai, berupa kejelekan, keburukan atau maksiat. Tentu saja ini solusi sementara, dikarenakan Motivasi, Iman atau Keyakinan kepada Akhirat masih lemah. 

✓ Setelah trik manipulasi Kemampuan dan Pemicunya, Motivasi akan mulai tumbuh, dan Iman atau Keyakinan menguat, karena Iman akan naik dengan adanya ketaatan kepada Allah. Lalu, mulailah meluruskan Niat secara sadar karena Allah subhana wa ta'ala dan Akhirat-Nya 
          
          Mengapa demikian?
          
          Karena, kebaikan dan keburukan itu timbul dimulai dengan kebiasaan yang ada di bawah sadar dan mampu menguat menjadi Karakter, Sifat atau Watak. Kebiasaan baik ketika telah terbiasa, dan mudah melakukannya, setelah itu mulailah kita menata niat hanya ikhlas karena Allah. 

          Seperti halnya para ulama, ketika pertama menuntut ilmu belum ikhlas. Namun, berjalannya waktu, dan telah terbiasa dan dengan bertambahnya ilmu, mulailah meluruskan niat.
          
          Begitu pula keburukan, ia terekseskusi karena kebiasaan. Maka, perlunya usaha-usaha sebab untuk menggagalkannya, agar kebiasaan buruk hancur. Ketika kebiasaan buruk telah terbiasa mudah ditinggalkan, boleh jadi setelah itu mulai kita niatkan ikhlas karena Allah semata.
          
          Perlu diingat, untuk menghancurkan kebiasaan buruk, pertama-tama kita harus mengetahui secara menyeluruh alasan atau sebab-sebab yang menggerakkan kebiasaan buruk tersebut. Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam kitabnya Mukhtashar Minhajul Qashidin, menjelaskan pula untuk menghilangkan sifat-sifat buruk perlu memutus sebab-sebabnya. Untuk lebih detailnya penjelasan tentang masalah ini silakan membaca postingan-postingan hal tersebut. Bisa tap /ketuk di sini.
          
          Beberapa bulan setelah sang Aku sanggup meninggalkan kebiasaan melihat medsos yang kurang bermanfaat, dan ia bisa memiliki kebiasaan menulis ilmu syar'i yang solid dalam kehidupannya, sang Aku betapa senang dan bahagianya. Lebih dari itu, kebiasaan menulis ilmu syar'i tersebut membuat kalbunya semakin tenang, tentram dan tidak galau.
          
          Sesekali sang Aku masih terisap dalam HP nya, tetapi perilaku tersebut tidak mencengkeram bagaikan tangan besi yang kuat seperti dahulu. 
          
          Motivasi belajar dan menulis ilmunya semakin menguat, mengalahkan kebiasaan melihat medsosnya. Hampir setiap bangun tidur sang Aku sanggup memegang kendali. Dia merasa lebih kuat, dan itu menambah kepercayaan dirinya dan rasa bersyukur kepada Allah Subhana wa ta'ala yang telah semakin menambah Motivasinya untuk menulis ilmu.
          
          Dan, ada hal lain yang penting: 

          Sang Aku belajar atau mendapat pelajaran bahwa Desain Perilaku sanggup memperbaiki perilaku kebiasaan apapun dalam kehidupannya.

***

Desain Kebiasaan Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya


WhatsApp Salafy Asyik Belajar dan Menulis

Posting Komentar untuk "3 Variabel Perilaku berlaku untuk semua Perilaku - Kebiasaan - Amal Perbuatan"

Menjadi Terampil Menulis
Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Menulis Cerita

Kisah Nyata
rasa Novel


Bahasa Arab
Nahwu
Mutammimah

Bahasa Arab
Sharaf
Kitabut Tashrif

Menulis Cerita Lanjutan

Biografi Inspiratif

Bahasa Indonesia
Belajar
Kalimat

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel


Bahasa Indonesia
Belajar
Kata

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

Disalin oleh belajar.icu
Blog Seputar Mendesain Kebiasaan Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya,
mudah, sedikit demi sedikit,
dan
saban hari.