Widget HTML #1

#24 Dendam dan Hasad

 Pendahuluan

         Ketahuilah, bahwasanya; 
  • amarah jika tertahan karena ketidakmampuan meluapkannya pada saat itu juga, 
  • akhirnya ia kembali ke batin (terpendam)
  • maka terasa sesak batin tersebut 
  • dan akhirnya menjadi dendam.
Tanda-tandanya adalah; 
  • terus-menerus membenci seseorang, 
  • merasa berat padanya, 
  • dan menghindar (enggan - ed.) darinya. 
Dendam itu adalah buah kemarahan

sedangkan hasad adalah hasil dari dendam tersebut.

         Dari az-Zubair al-'Awam radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda,
          "Telah menjalar kepada kalian penyakit umat-umat sebelum kalian, yaitu hasad dan kebencian."
Hadits hasan: dikeluarkan oleh at-Tirmidzi (2510) Sifat al-Qiyamah, dan Ahmad (1415) dari jalan Yahya bin Abi Katsir, dari يعيش bin al-Walid, dan dihasankan al-Albani, lihat al-Irwa' (238).

          Dan, di dalam ash-Shahihain dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sesungguhnya beliau bersabda,
          "Janganlah kalian saling membenci, dan jangan saling memutus hubungan, dan janganlah saling hasad, dan jangan saling membelakangi, akan tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara."
Hadits shahih: dikeluarkan oleh al-Bukhari (6064) al-Adab, dan Muslim (2563) البر و الصلة dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu

           Dan, di dalam hadits lainnya, dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda,
          "Sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan, bagaikan api memakan kayu bakar."
Hadits dhaif: dikeluarkan oleh Abu Dawud (4903) dari Ibrahim bin Abi أسيد dari kakeknya dari Abu Hurairah marfu', dan al-Albani berkata, ((dan rijalnya - موثوقون غير - kakek Ibrahim dan dia majhul karena dia - لم يسم )), dan didhaifkan al-Albani dalam adh-Dhaifah (1902).

          Dan di dalam hadits lain, sesungguhnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
          "Akan datang kepada kalian dari jalan ini, seorang lelaki dari penduduk al-Jannah (surga - ed.)." 
          Maka datanglah seorang lelaki, lalu ia ditanya tentang amalannya.
          Dia menjawab, "Aku tidak mendapatkan pada diriku untuk menipu dan tidak pula hasad terhadap seorangpun dari kaum muslimin ketika Allah memberi kebaikan kepadanya."
Sanadnya shahih: dikeluarkan oleh Ahmad (12286) dari Anas bin Malik dengannya, dan al-Albani menshahihkan sanadnya dari Anas, lihat yang demikian itu adh-Dhaifah (1/25).

          Dan, kami meriwayatkan, sesungguhnya Allah tabaraka wa ta'ala berfirman,
         "Orang yang hasad adalah musuh nikmat-Ku, tidak terima (jengkel - pent.) dengan ketentuan-Ku, dan tidak rela (ridha - pent.) dengan pembagian-Ku di antara hamba-hamba-Ku."

          Dan Ibnu Sirin berkata,
          "Aku tidak pernah hasad kepada seorangpun pada urusan dunia, karena sesungguhnya bila ia adalah dari salah satu ahli al-Jannah (surga - pent.), lalu bagaimana aku hasad kepadanya  pada urusan dunia, sementara dia akan masuk ke al-Jannah? Jika dia menjadi ahli an-Nar (neraka - pent.), lalu bagaimana aku hasad kepadanya pada urusan dunia, sementara dia akan masuk ke neraka?"

         Iblis - la'nahu Allah - berkata kepada Nabi Nuh alaihis salam,
         "Jauhilah (hati-hatilah - waspadalah - ed.) hasad, karena sesungguhnya hasad menjerumuskanku ke bencana (keadaanku - pent.) ini."

Penjelasan hakikat Hasad, hukumnya dan perlakuannya

          Ketahuilah, sesungguhnya Allah ta’ala jika memberi nikmat kepada saudaramu suatu nikmat, maka pada dirimu berada dalam salah satu dari dua keadaan:

Pertama
  • engkau membenci nikmat tersebut, 
  • dan suka nikmat tersebut lenyap.
  • Maka keadaan inilah yang dinamakan hasad.      
  • Jadi definisi hasad adalah: 
membenci nikmat dan senang nikmat tersebut hilang dari orang yang mendapat nikmat.

Kedua, bahwa 
  • engkau tidak membenci atas adanya nikmat tersebut, 
  • dan tidak menginginkan lenyapnya nikmat itu, 
  • tetapi engkau ingin mendapatkan nikmat yang sama pada dirimu. 
  • Maka, yang demikian ini disebut ghibthah.
          Penulis - Ibnu Qudamah al-Maqdisi - rahimahullahu berkata,+

          Aku berkata, “Dan, ketahuilah sesungguhnya aku tak melihat seorangpun terdapat ucapan yang tuntas dalam masalah ini yang seharusnya. Maka, mau tidak mau bagiku untuk menyingkapnya. Saya katakan:”

          Ketahuilah, sesungguhnya; 
  • jiwa diciptakan dengan tabiat menyukai kemuliaan
  • Maka, ia (jiwa itu - ed.) tidak suka jika ada yang semisalnya mengunggulinya
  • Ketika ada yang lebih tinggi atasnya, jiwa merasa berat (teriris - pent.) dan membencinya
  • Serta ingin hilangnya yang demikian itu (jiwa lain yang lebih tinggi tersebut - ed.) 
  • agar terjatuh menjadi sama dengannya
          Dan, perkara ini  tertanam pada tabiat setiap insan.

          Dan, telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sesungguhnya beliau bersabda, 
          ”Tiga hal, yang tak seorangpun selamat darinya:
✓ prasangka buruk,
hasad,
✓ thiyarah atau tathayur.

          Dan, akan aku beritahu apa jalan keluar dari yang demikian itu.
✓ Jika engkau berprasangka buruk, jangan engkau membuktikan.
✓ Jika engkau melakukan tathayur, maka teruslah berjalan (jangan hiraukan - ed.).
✓ Jika engkau merasa hasad, jangan berbuat zalim dan melampaui batas.”
Lihat takhrij ((غاية المرام)) oleh al-Albani (302)

Pengobatan hasad

          Hasad terkadang bisa diobati dengan; 
ridha terhadap ketentuan Allah. 
zuhud terhadap dunia
merenungi (berpandangan - pent.) kepada apa-apa yang terkait nikmat-nikmat tersebut dari 
> kekhawatiran dunia (gagal mendapatkannya, kesulitan memiliki, atau kehilangan, - ed), dan permasalahan 
> hisab (perhitungan - pent.) pada hari kiamat nanti.

          Maka, dengan yang demikian itu ia akan, 

terhibur, dan 
tidak menuruti (patuh - ed.) sesuai asal jiwanya, dan 
tidak berucap mengungkap kedengkiannya.

Maka, jika ia melakukan hal yang demikian itu, tidak akan membahayakan dirinya,  apa yang telah diletakkan tabiat (hasad - ed.)  pada dirinya itu.

          Sedangkan orang yang, 

hasad kepada Nabi atas kenabiannya (nubuwah - ed.), atau
hasad kepada orang berilmu atas ilmunya

          Sehingga berakibat ia, 

tidak menginginkan Nabi atau orang berilmu tersebut diberi rizki kenabian atau ilmu, 
atau ia 
✓ menginginkan hal-hal tersebut hilang dari mereka

          Maka, yang demikian *tak ada udzur* di baginya. Tidaklah terdapat padanya kecuali jiwa yang kafir dan buruk.

          Adapun, jika orang yang, 

✓ menginginkan untuk mendahului (berlomba - ed.) teman sejawatnya, 
✓ ingin mengetahui (ilmu) yang belum diketahui,
  • Maka, yang demikian tidak berdosa karenanya. 
  • Dan, sesungguhnya ia tidak ingin berakibat hilangnya dari temannya apa yang ada di sisi temannya tersebut.
  • Namun, ia ingin lebih tinggi daripada temannya supaya mendapat tambahan pahala di sisi Rabbnya. 
  • Seperti halnya, ibarat dua budak dalam melayani tuan mereka berdua, dan mereka ingin di antara mereka berdua, untuk berlomba (melayani lebih baik - ed.).
          Dan, Allah ta’ala telah berfirman,
          ”Maka dalam hal ini hendaknya mereka saling berlomba.” (al-Muthaffifin: 26).

         Dan, di dalam ash-Shahihain dari hadits Ibnu Umar radhiallahu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda,
          ”Tidak boleh hasad, kecuali pada dua orang (hal):
✓seorang lelaki yang Allah beri kepadanya ilmu al-Qur’an, lalu ia mengamalkannya (menegakkannya - pent.) di waktu malam dan di waktu siang, dan
✓ seorang lelaki yang Allah beri kepadanya harta, lalu ia menginfakkannya di jalan kebenaran di waktu malam dan di waktu siang.
Hadits shahih: dikeluarkan oleh al-Bukhari (7529) al-Ilmu, dan Muslim (815) Shalat al-Musafirin.

Sebab-sebab Hasad

✓ Permusuhan
✓ Kesombongan
✓ Ujub
✓ Cinta kedudukan
✓ Buruknya jiwa
✓ Bakhil, kikir atau pelit

         Akan dijelaskan secara terperinci satu-persatu dari sebab-sebab hasad tersebut.

Permusuhan

         Sebab terkuat adalah permusuhan dan kebencian

         Sesungguhnya, 
  • orang yang diganggu manusia karena suatu sebab, 
  • dan keinginannya (tujuannya - ed.) diselisihi, 
  • kalbunya akan membencinya 
  • dan terbangun (tumbuh) pada dirinya dendam.
          Dendam mengharuskan ingin melampiaskannya dengan membalas dendam tersebut. 
  • Sehingga apapun yang menimpa musuhnya dari berbagai bala musibah,  bukan main senangnya dia  (berbahagia - pent.) oleh sebab yang demikian. 
  • Dia menyangka bahwa itu adalah balasan (hadiah - pent.) dari Allah ta’ala untuk musuhnya.
  • Sebaliknya, apapun yang didapat musuhnya berupa nikmat, ia  merasa tidak senang.
         Maka, hasad melazimkan kebencian dan permusuhan, dan tidak terpisah di antara keduanya.

         Dan, sesungguhnya tujuan yang menyembuhkan adalah tidak ingin seperti itu, dan membenci sifat-sifat yang demikian di dalam jiwanya. 

         Hal yang tak mungkin terjadi adalah:

Orang membenci orang lain, lalu ia menganggap sama saja baginya apabila ada kebaikan atau keburukan menimpa orang tersebut.

Kesombongan

          Adapun sebab hasad karena kesombongan adalah, ketika 

✓ melihat seseorang (teman) mendapat harta atau 
kedudukan (al-Jah - ed.)

           Lalu, 
  • ia khawatir teman tersebut menyombongkan dirinya di hadapannya 
  • dan tak mampu menahan (mencegah) dari penyombongnya itu.
  • Atau, jika hal itu (harta dan kedudukan - ed.) terdapat pada temannya yang lebih rendah kedudukannya darinya, sehingga tidak memungkinkan ia mampu lebih tinggi darinya, 
  • atau setidaknya sejajar dengan temannya.
          Dan, hasadnya orang-orang kafir terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak jauh dari hal ini. Allah ta’ala berfirman,
         ”Mereka mengatakan, ‘Kalau saja al-Qur'an ini diturunkan kepada salah seorang dari dua kabilah besar.” (az-Zukhruf: 31)

          Dan, Allah ta'ala berfirman tentang ucapan orang-orang kafir tentang orang-orang beriman,
          ”Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?” (al-An’am: 53).

          Dan, Allah berfirman di ayat lain,
         ”(Mereka mengatakan), Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami.” (Yasin: 15)

          Dan, firman-Nya,
         ”Sesungguhnya, jika kalian mentaati manusia yang seperti kalian, niscaya kalian benar-benar akan menjadi orang-orang yang merugi.” (al-Mu’minun: 34).

          Mereka menganggap aneh dan tak suka bila ada manusia semisal mereka mendapat kedudukan dan Risalah Kenabian di atas mereka. Oleh sebab itulah mereka hasad (dengki).

Cinta kedudukan

          Adapun cinta kedudukan dan mencari status sosial, seperti; 

seseorang yang ingin untuk tidak tersaingi pada salah satu bidang tertentu dari berbagai bidang.

          Jika seseorang 

dikuasai cinta pujian, dan 

✓ terseret merasa senang atau bahagia dengan apa-apa yang dipujikan pada bidang yang dikuasainya itu. 

✓ Dan, bahwa ia satu-satunya yang ahli dibidangnya di waktu itu. 

✓ Lalu, jika ia mendengar ada yang menandingi terhadapnya dan melebihinya, diapun tidak suka atau sedih. 

✓ Dan, ia menyukai kematian orang yang menandinginya itu

✓ atau hilang nikmat tersebut yang menyebabkan menandingi dalam hal;  
  • ilmu, 
  • atau keberanian, 
  • atau ibadah, 
  • atau keterampilan, 
  • atau kekayaan, 
  • atau nikmat-nikmat yang lainnya. 
✓ Yang demikian tersebut tidak lain tidak bukan, hanyalah alasan untuk  menjadi tokoh tunggal.

          Dan, dahulu di kalangan ulama Yahudi mengingkari terhadap pengetahuan mereka sendiri pada Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam, dan mereka tidak beriman kepada beliau karena khawatir gugur (jatuh) kepemimpinan mereka.

Buruknya jiwa dan bakhil

          Adapun buruknya jiwa dan bakhilnya jiwa terhadap hamba-hamba Allah, maka hal itu sebenarnya engkau dapati dari,

✓ manusia yang tidak sibuk dengan (ambisi - ed.) kedudukannya dan tidak sombong, akan tetapi

✓ jika disifati di sisinya tentang kondisi kebaikan dari seorang hamba dari hamba-hamba Allah ta'ala terhadap nikmat-nikmat yang ada pada hamba tersebut, iapun merasa tidak suka (sedih - pent.).

✓ Dan, jika disifati padanya rintangan dan kendala urusan manusia dan ketertinggalan mereka dan gangguan pada kehidupan mereka, maka ia merasa senang (bahagia - pent.) dengan keadaan tersebut. 

✓ Orang yang seperti ini menyukai ketertinggalan orang lain, dan kikir terhadap nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Bagaikan mereka mengambil dari kepemilikan dan perbendaharaannya.

         Dan, sebagian ulama telah berkata, bahwa,

al-bakhil adalah bakhil terhadap hartanya sendiri, sedangkan

asy-syahih adalah orang yang bakhil terhadap harta orang lain (agar orang lain tidak mendapatkannya nikmat tersebut - ed.). Maka, orang ini bakhil terhadap nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya, padahal antara orang tersebut dengan hamba Allah tersebut tidak mempunyai permusuhan ataupun hubungan apapun. Maka, yang demikian tersebut tak ada sebab, kecuali karena buruknya jiwa dan rendahnya tabiat.
Dan, ini adalah; 
  • perilaku yang parah, 
  • karena yang demikian padanya disebabkan bukan hal yang wajar (sebab dari luar, eksternal, atau konteks lingkungan yang memicu - ed.). 
  • Namun, karena sebabnya adalah keburukan tabiat asalnya
  • untuk berusaha menghilangkannya (mengobatinya) sulit diobati.
          Demikianlah penyebab-penyebab hasad.

Pasal tentang sebab (terjadi - ed.)  banyaknya hasad

          Dan, ketahuilah bahwa (terjadi) banyaknya hasad di antara masyarakat oleh sebab-sebab yang semakin banyak pada yang telah disebutkan (sebelumnya). Yang demikian tersebut umumnya terjadi di antara teman sejawat, dan antar orang yang selevel, antar saudara, dan antar sepupu.

          Sebab hal tersebut, yakni saling hasad dikarenakan adanya;
 
saling terkait (saling bersaing di antara orang-orang tersebut - ed.) pada satu tujuan, yang 
✓ mengakibatkan konflik (permusuhan) di dalamnya
✓ dan, meletup menjadi ketidakharmonisan dan saling membenci.

          Yang demikian tersebut, engkau melihat,

✓ orang alim (berilmu) menghasadi sesama orang alim, bukan kepada ahli ibadah.
✓ Ahli ibadah berhasad kepada sesama ahli ibadah, bukan kepada orang alim.
✓ Pedagang hasad kepada sesama pedagang.
✓ Tukang sepatu menghasadi tukang sepatu, tidak hasad kepada pedagang kain, kecuali ada faktor lain.

          Semua itu disebabkan tujuan setiap orang (pada sebuah kategori - satu jenis profesi) di antara mereka berbeda tujuan seseorang pada kategori yang lain.

          Jadi, asal (dasar - pent.) permusuhan adalah; 

saling bersaing untuk mencapai satu tujuan. Sementara itu,

satu tujuan tidaklah bisa mengumpulkan antara dua orang yang saling berjauhan (berlainan kategori - berbeda profesi - berlainan bidang yang digeluti - ed.). Karena, 

tidak ada hubungan (persinggungan - ed.) antara dua orang di dua negeri yang berbeda. Tidak terjadi di antara keduanya saling hasad.

          Kecuali, 

bila seseorang sangat berambisi meraih suatu kedudukan, menginginkan ketenaran dari seluruh pihak (seluruh bidang kategori).

          Maka, sesungguhnya seseorang akan dengki pada setiap orang di dunia ini yang memiliki (berkontribusi) karakteristik yang sama dengan dirinya, yang dengan hal tersebut dia bisa membanggakan dirinya.

          Pangkal dari semua itu adalah; 
  •  cinta kepada kehidupan dunia
  • Sebab,  dunia ini sempit  bagi orang-orang yang saling bersaing. 
          Adapun akhirat, tak ada kesempitan di sana.

         Oleh karena itu, 
  • barang siapa sangat mencintai terhadap pengenalan Allah ta’ala
  • para malaikat-Nya, 
  • para Nabi-Nya, 
  • dan kerajaan-kerajaan bumi dan langit-Nya, 
  • maka tidak akan hasad kepada selainnya. 
         Itu terjadi, jika ia mempunyai pengetahuan yang demikian.

         Sebab, pengenalan (pengetahuan - pent.) tersebut di atas, tidak membuat merasa sempit bagi orang-orang yang mengenal (mengetahui - pent.). Bahkan, satu ilmu saja, bisa diketahui oleh berjuta orang berilmu (alim). Orang berilmu pun, senang bila orang lain mengetahui ilmu tersebut.

          Maka yang demikian itu, 
  • tak ada saling hasad di antara para ulama agama
  • karena (jika - red.) tujuan mereka mengenal Allah ta’ala. 
  • Dan, hal itu (pengenalan Allah - ed.) adalah samudra yang luas, tak ada kesempitan padanya. 
  • Tujuan mereka adalah kedudukan di sisi Allah
  • dan tiada kesempitan pada segala sesuatu yang ada di sisi Allah.
          Karena, 
  • puncak kenikmatan di sisi Allah adalah perjumpaan dengan-Nya
  • Orang-orang yang berjumpa dengan Allah tiada saling menghalangi 
  • dan tiada saling berdesakan
  • Mereka tidak saling bersempit-sempitan ketika melihat Allah. 
  • Bahkan, semakin bertambah banyak jumlah manusia (yang melihat Allah, semakin senanglah mereka - ed.).
Kecuali, jika tujuan para ulama tersebut adalah  harta  (dunia - ed.) dan  kedudukan ilmu  (yang mereka miliki, di sisi manusia - ed.), saling dengkilah mereka.

          Perbedaan antara ilmu dan harta,
  • bahwasanya harta tidaklah bisa halal pada tangan seseorang, bila tidak berpindah dari tangan yang lainnya (karena berbentuk fisik - konkret - ed.).
         Sedangkan,

ilmu tetap kokoh di kalbu orang yang berilmu. 

✓ Dan ilmu halal di dalam kalbu orang lain dengan cara diajarkan dari orang berilmu tanpa dipindah dari kalbu orang alim tersebut. 

✓ Bahkan, ilmu juga tiada akhirnya bagi orang berilmu.

           Barang siapa,

✓ membiasakan dirinya untuk merenungi kemuliaan Allah* dan kebesaran dan kekuasaannya, 

✓ maka yang demikian akan menjadi paling lezat dari setiap kenikmatan di sisinya. 

✓ Karena ia tak terhalangi darinya 

✓ dan tidak berdesak-desakan di dalamnya. 
 
Maka tidak ada hasad pada kalbunya kepada seorang makhlukpun.

          Karena, 
  • ketika orang lain jika mengetahui apa yang ia ketahui, 
  • hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari kelezatannya.
          Dan, telah engkau ketahui bahwa sesungguhnya tidak ada hasad kecuali, pada orang-orang yang memiliki satu tujuan, dimana hal itu sempit (tak mungkin - ed.) untuk terpenuhi semua.

          Oleh karena sebab itu, 

✓ engkau tidak akan melihat manusia saling dengki pada pandangan mereka terhadap perhiasan langit
✓ Karena langit sangat luas bentangannya, 
✓ mampu dilihat oleh semua pandangan.

         Jadi, 

✓ jika engkau sayang pada jiwamu

✓ wajib atas engkau untuk mencari nikmat yang tidak perlu berdesakan di dalamnya, dan kelezatan yang tiada tara

✓ dan tidak pernah didapatkan di dunia kecuali, 
  • pengenalan terhadap Allah ta’ala,
  •  dan pengenalan terhadap Sifat-sifat-Nya 
  • dan keajaiban-keajaiban kerajaan-Nya.
          Kenikmatan dan kelezatan tersebut tidaklah didapat kecuali dengan pengenalan tersebut. Oleh karena itu, 
  • jika engkau tak merindukan kepada pengenalan (ma’rifah) Allah Subhana wa ta’ala, 
  • dan tak menjumpai kelezatannya
  • dan lemah keinginanmu padanya
  • engkau bukanlah seorang lelaki
  • Sebab, semua itu adalah  permasalahan para lelaki.
         Karena, 

kerinduan itu timbul setelah merasakan (mencicipi - pent.)

✓ Barang siapa belum merasakan (kelezatannya - ed.), maka ia belum mengenalnya

✓ Barang siapa belum mengenalnya, maka ia tak akan merindukannya.

✓ Dan, barang siapa tak merindukan, maka ia tak akan mencarinya (memburunya - pent.)

✓ Barang siapa tak berusaha mencari, ia tak akan mendapatkannya.

✓ Dan, barang siapa tidak mendapatkan, ia akan tetap bersama orang-orang yang terhalang. (terharamkan - pent.) (dari merasakan dan mendapatkan kelezatan dan kenikmatan - ed.) (pengenalan kepada Allah ta’ala - pent.).

Penjelasan obat hasad secara ilmu dan dengan amal

          Ketahuilah, bahwasanya hasad adalah salah satu dari penyakit yang berbahaya bagi kalbu. Dan tidaklah sembuh penyakit hati kecuali dengan ilmu dan amal.

Obat secara Ilmu

          Ilmu yang bermanfaat untuk penyakit hasad adalah;

✓ mengetahui hakikatnya, bahwa
✓ hasad memudharatkan atas engkau pada urusan agama dan dunia.

          Sedangkan kebalikannya,

✓ hasad tidak memudharatkan orang yang dihasadi pada agama dan tidak pula pada urusan dunianya. 

✓ Bahkan, ia mendapat manfaat dari kedengkianmu. 

✓ Dan, kenikmatan dari orang yang didengkii tersebut tidak lenyap oleh sebab kedengkianmu. 

          Seandainya engkau tak beriman pada Hari Kebangkitan, harusnya cerdas - jika engkau berakal - untuk menjauhi penyakit hasad. Karena apa yang ada di dalam hasad hanyalah, 

menimbukan kepedihan kalbu bersamaan pula dengan,
tak adanya manfaat sedikitpun.

          Lalu, bagaimana pula jika engkau mengetahui akibat hasad berupa azab di akhirat? (tentu engkau lebih-lebih menjauhi hasad - ed.)
 
          Dan, penjelasan pada ucapan kami, 

Bahwasanya orang yang dihasadi tidak termudharatkan atasnya dalam urusan agama maupun urusan dunianya. Bahkan, ia akan mendapat manfaat dari kedengkianmu dalam urusan agama maupun dunianya.”
 
           Itu, dikarenakan apa yang telah Allah takdirkan padanya dari, 

kenikmatan akan tetap berlangsung sampai batas waktu yang Allah tentukan atasnya. 
✓ Dan, (kedengkianmu - ed.) tidak memudharatkan atas ia di akhirat
✓ karena sesungguhnya tak ada dosa baginya yang demikian itu. 
✓ Bahkan, sebaliknya ia akan mendapat manfaat dengannya, oleh sebab ia merupakan orang yang dizalimi dari arahmu.
✓ Lebih khusus lagi, jika engkau ungkapkan hasad tersebut berupa ucapan maupun perbuatan.

          Adapun, manfaat dunia yang ia peroleh, adalah bahwasanya salah satu sasaran terpenting penciptaan (manusia - ed.) adalah 

membuat sedih (tidak senang - pent.) musuh-musuh
✓ Maka tak ada siksaan yang lebih memedihkan engkau daripada siksaan akibat kedengkianmu sendiri kepadanya.

          Jika engkau renungkan apa yang telah kami sebutkan tersebut di atas, engkau menyadari bahwa;

✓ sesungguhnya ”engkau” adalah musuh terhadap dirimu sendiri. 
✓ Dan, ia (kedengkianmu - ed.) adalah teman musuhmu (engkau sendiri - pent.)

          Engkau ibarat, 

✓ orang (engkau - pent.) yang melempar batu kepada musuhmu untuk membunuhnya, tetapi tidak mengenainya, 

✓ dan batu tersebut justru berbalik mengenai mata kananmu, hingga terlepaslah (biji mata kanan tersebut - ed.). 

✓ Lalu, bertambah marahlah engkau, dan kembalilah engkau melemparkan batu kepadanya lebih keras dari yang pertama tadi,

✓ batu tersebut malah berbalik ke arah matamu yang lain, dan membuat engkau buta

semakin membesarlah kemarahanmu. Maka, untuk ketiga kalinya engkau melemparnya, ternyata batu pun berbalik terlontar ke arah kepalamu, hingga (kepalamu - pent.) pecah. 

✓ Namun, sang musuh (orang yang engkau dengkii - pent.) tetap selamat, 

bahkan menertawakanmu.

         Inilah, obat ilmiah (bagi penyakit kalbu hasad - ed.), bila manusia mau berpikir merenunginya, maka padamlah api kedengkian dari kalbunya.

Obat secara Amal

  .      Sedangkan, amalan yang bermanfaat padanya (dalam mengobati penyakit hasad - ed.), adalah; 

✓ hendaknya menyelisihi (melakukan lawan perbuatan - ed.) 
  • atau melakukan kebalikan dari apa yang diperintahkan oleh hasad (berupa sebab-sebabnya)
  • (karena obat setiap penyakit adalah lawannya 
  • yakni memutus sebab-sebabnya - ed.).

          Misalnya, 

✓ jika hasad tersebut mengobarkan dendam dan mencela orang yang dihasadi, maka jiwanya menyelisihi (melawan - pent.) dengan  memuji  dan  menyanjung  atas orang tersebut.

✓ Jika hasad membawanya kepada kesombongan, jiwanya mengharuskan (memaksa - pent.) untuk bersikap  tawadhu  kepadanya. 

✓ Dan, jika hasad membangkitkan untuk menahan (menghalangi - pent.) dari pemberian kepadanya, ia paksa pula jiwanya untuk  menambah pemberian  kepada orang yang dihasadi tersebut.
Dahulu, ketika sekelompok dari kalangan Salaf, bila tersampaikan kepada mereka bahwa seseorang menggibahi mereka, maka merekapun menghadiahi kepada sang penggibah dengan suatu hadiah.

          Inilah, obat yang sangat bermanfaat untuk penyakit hasad, tetapi sesungguhnya  obat itu pahit.

          Dan, agar mudah meminumnya, hendaknya sesungguhnya ia mengetahui, bahwa, 

jika tak semua terwujud, setiap apa yang diinginkan, hendaknya ia menginginkan untuk terwujud. 
 
         Dan ini adalah obat yang totalitas. 

         Allah Maha Mengetahui, dan shallallahu ‘ala Muhammad wa ‘ala sahabat-sahabatnya dan keselamatan.

Bibliografi

  • Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin - Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
  • Buku terjemahan - Mukhtashar Minhajul Qashidin - At-Tuqa
  • Kajian Islam Mukhtashar Minhajul Qashidin - Al-Ustadz Qomar ZA, Lc - Masjid Umar Ibnul Khaththab, Ponpes Darul Atsar, Kedu
Mau belajar Mukhtashar Minhajul Qashidin via daring (online), ikuti tahapannya, TAP /KETUK > di bawah ini:
Mukhtashar Minhajul Qashidin
Belajar dengan Menulis Saban Hari

***

Mau Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya, mudah, sedikit demi sedikit, dan saban hari, TAP /KETUK > di bawah ini:
WhatsApp Salafy Asyik Belajar dan Menulis

Posting Komentar untuk "#24 Dendam dan Hasad"

Menjadi Terampil Menulis
Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Menulis Cerita

Kisah Nyata
rasa Novel


Bahasa Arab
Nahwu
Mutammimah

Bahasa Arab
Sharaf
Kitabut Tashrif

Menulis Cerita Lanjutan
Kelindan
Kisah-kisah Nyata


Bahasa Indonesia
Belajar
Kalimat

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel


Bahasa Indonesia
Belajar
Kata

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

Disalin oleh belajar.icu
Blog Seputar Mendesain Kebiasaan Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya,
mudah, sedikit demi sedikit,
dan
saban hari.