Widget HTML #1

3 Variabel Perilaku - Kebiasaan - Amal Perbuatan

          Kita - insya Allah - sanggup mengubah kehidupan kita, dengan; 
  • mengubah perilaku atau kebiasaan amal perbuatan kita. 
  • Termasuk kehidupan ilmiah syariah dan amaliah kita, 
  • baik amaliah kalbu (hati) dan amaliah lahiriah (zahir - anggota tubuh) 
  • dengan mengubah perilaku atau menumbuhkan kebiasaan belajar ilmu syar'i dengan menuliskannya.          
          Yang penting kita ketahui, adalah bahwa  ada tiga variabel atau komponen yang menggerakkan berbagai kebiasaan atau perilaku tersebut. Perilaku suatu misteri, tetapi dengan model tiga variabel, misteri itu akan terpecahkan. Variabel yang tiga tersebut saling berhubungan, bekerjasama menngerakkan setiap tindakan kita. Mulai dari menulis faedah agama Islam satu kalimat sampai belajar menelaah ilmu selama berjam-jam di perpustakaan.
          
Kata "variabel" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu maknanya adalah: "sesuatu yang dapat berubah; faktor atau unsur yang ikut menentukan perubahan."

          Begitu kita memahami pola kebiasaan, kita sanggup menganalisis mengapa kebiasaan terjadi. Dengan demikian, kita mampu berhenti menyalahkan kebiasaan kita pada hal-hal yang tak semestinya, seperti karakter, sifat pribadi, kedisiplinan dan sebagainya yang itu semua bisa pula kita bentuk dari kebiasaan.
          
          Bahkan, kita mampu menggunakan pola 3 variabel untuk mendesain perubahan perilaku atau kebiasaan bagi diri kita maupun orang lain.
          
          Apakah 3 variabel tersebut?
          
          3 variabel tersebut, untuk sementara kita sebut saja: Motivasi, Kemampuan, dan Pemicu, dimana ketiganya berkumpul pada saat yang sama sehingga terjadillah perilaku atau kebiasaan.
  • Motivasi: keinginan kita untuk melakukan perilaku atau kebiasaan. Terkadang kita sebut juga, iradah, hasrat, kemauan, yaitu terkait yang ada di dalam kalbu dan pikiran kita. Lebih kuat lagi disebut; keyakinan, iman, dan niat dengan kesadaran orang yang berakal lurus.
  • Kemampuan: kapasitas kita untuk melakukan perilaku atau kebiasaan, atau kekuatan lahiriah dan hal-hal yang mendukung lahiriah tersebut.
  • Pemicu: isyarat untuk melakukan perilaku atau kebiasaan tersebut, atau bisa pula disebut; pemantik atau penyulut.
          Untuk mudahnya memahami hal tersebut, kita memberi contoh:
          
          Suatu pagi, ketika Sang Surya baru menjelang keluar dari persembunyiannya, kurang lebih pukul 05:55:03 WIB, Sabtu 27 Mei 2006, aku sedang mendengarkan kajian melalui radio komunitas di rumah.

          Tiba-tiba, suara ustadz kami yang mengisi kajian berubah, "Allah Musta'an ..."

          Tempat duduk yang aku duduki, serta merta bergoncang.

          "Krektek, krektek, krektek!" suara dari atas. Aku mendongak ke atas, ada apa? Rupanya genteng-genteng rumahku bergemeretak.

          Serta merta, terdengar di speaker radioku kegaduhan. Tak jelas, saling melontarkan suara. Suara-suara orang panik, bagaikan ribuan lebah. 

          Aku memang saat itu tak hadir di masjid, karena suatu uzur urusan rumah. Sehingga, aku cukupkan mendengar kajian pagi yang biasa disampaikan di masjid Khalid bin Walid, masjid komunitas Ahlus Sunnah di Muntilan.

          Ada bunyi aneh juga, "Kriét ... kriét ... kriét!" di speaker radioku tersebut. 

         "Gempa! Keluar! Keluar! ..." teriakan-teriakan di masjid terdengar dari radio.

          Hah! Gempa bumi? Akupun bersegera keluar dari rumah, sampai lupa mengajak keluarga. Begitulah jika panik, semua ingin menyelamatkan diri. Bagaimana jika hari kiamat tiba ya?

          Ya itulah, peristiwa gempa bumi tektonik kerak dangkal yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah selama 57 detik. Gempa bumi tersebut berkekuatan 5,9 pada skala Richter. Kekuatan gempa lumayan, memang tidak terlalu kuat, hanya saja durasinya yang cukup lama, hampir 1 menit. Sumber:https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Yogyakarta_2006

          Berita yang akhirnya diketahui setelah terjadi gempa bumi tersebut, adalah sebagian besar bangunan penduduk di daerah Bantul dan sekitarnya luluh lantak. Banyak korban dari kalangan manula yang meninggal tertimpa reruntuhan rumahnya. Ya, bagaimanalah mau keluar rumah, para manula dengan kerentaannya itu, lambat bergerak.

          Setelah itu, maka mulailah masyarakat, termasuk golongan Ahlus Sunnah bergotong royong, bantu membantu untuk membereskan bangunan yang rusak. Sampai-sampai dari warga komunitas Ahlus Sunnah Muntilan, ketika ikut membantu, malah tertimpa reruntuhan bangunan, dan terpaksa dibawa ke Rumah Sakit untuk dioperasi bedah tulang, karena pinggulnya ada yang patah. 

          Begitu pula bantuan materiil, dana mengalir dari berbagai penjuru.

          Akupun berpikir putar-putar pikiran,"Kira-kira apa yang bisa aku bantu? Setidaknya entah apa, gagasan atau ide apalah ..."

          Maka, dengan bermodal pulsa HP, - waktu itu belum ada HP Android - aku mencoba SMS  teman-temanku semasa sekolah dan kuliah, seingatku begini teks smsnya, "Bismillah, gempa Jogja telah meluluh lantakkan sebagian besar rumah-rumah di daerah Bantul, dan korban jiwa. Kebetulan aku di Muntilan, cukup dekat dengan lokasi itu. Barangkali teman-teman ingin ikut membantu dalam bentuk dana, silakan transfer ke no. rekening xxx. Terima kasih banyak atas bantuannya, semoga Allah membalas dengan balasan setimpal."

          Tak berapa lama, berhujanan SMS dari teman-temanku, ada yang balas, "Oo loe sekarang di Muntilan?" Dan, selanjutnya siap transfer.

          Ada yang langsung SMS, "Sudah gue kirim ke rekening loe ya, 500rb."

          Juga, mungkin yang belum sempat hari itu, keesokannya menyusul transfer. Rata-rata mereka mentransfer 500 ribu rupiah, ada sesekali di bawah nilai itu. Mereka memakai logat Jakarta, karena sebagian besar teman-teman berdomisili di sana.

          Dan, yang paling mengagetkan aku, adalah SMS ini, "Udah gue transfer ya, 10jt." Masya Allah nilai yang cukup besar di tahun itu, 2006 lho!
          
***

          Baiklah, kita mencoba menganalisis tindakan teman-teman tersebut terkait 3 variabel perilaku atau kebiasaanamal perbuatan.
  • Perilaku, Perbuatan atau Tindakan: Memberikan sumbangan dana bantuan melalui transfer rekening bank.
  • Motivasi: Teman-teman ingin membantu para korban gempa bumi.
  • Kemampuan: Transfer ke rekening bank adalah hal mudah, yaitu ketika teman-teman melintas di tempat-tempat yang ada anjungan ATM, sekaligus bila ada keperluan ambil uang untuk keperluan sehari-hari. Apalagi anjungan ATM terserakan dimana-mana. Itu belum ada HP Android, jika telah ada mungkin lebih mudah lagi mentransfer melalui aplikasi-aplikasi perbankan.
  • Pemicu: SMS yang terkirim dari aku.
          Dalam peristiwa ini, ketiga variabel bertemu (Motivasi, Kemampuan dan Pemicu), sehingga terjadilah tindakan atau perilaku tersebut, teman-teman mengirim sumbangan. Namun, jika salah satu dari tiga variabel tersebut tak terpenuhi, kemungkinan besar teman-teman tidak melakukannya.

Motivasi teman-teman untuk tindakan tinggi. Akibat gempa bumi Jogja tersebut tentu diberitakan secara luas dan betul-betul membuat kalbu-kalbu terenyuh.
          
Kemampuan, bagaimana? Jika sang aku meminta dana cash dikirim di dalam amplop atau dikirim melalui wesel pos, tentu itu menyulitkan teman-teman. Sedangkan, sang aku hanya mohon transfer ke suatu no. rekening, ini setidaknya memudahkan. Apalagi jika ada anjungan ATM langganan teman-teman, tentu mudah mengaksesnya, karena telah terbiasa menuju tempat itu atau memang anjungan ATM tersebut terletak di lintasan kesibukan sehari-hari mereka.
          
Pemicu, cukupkan memicu tindakan? Bagaimana jika penggalangan dananya tidak pakai SMS, misalkan menggunakan surat via pos, dan akhirnya teman-teman membuangnya tanpa membacanya, karena menganggap tidak penting. Sehingga tidak ada pemicu, karena teman-teman tak melihat permohonan sang aku. Tak ada pemicu, maka tak ada tindakan atau perilaku.
          
          Alhamdulillah, Sang Aku membantu teman-teman. Teman-teman ingin menyumbang, dan sang aku memudahkannya. Ide gagasan itu cukup lumayan sukses, mengumpulkan dana di atas 15 juta rupiah. Dari satu orang yang cuma coba-coba dan untung-untungan.
          
          Dari sini, nanti akan dijelaskan pola tiga variabel itu berlaku secara umum untuk semua perilaku manusia termasuk belajar ilmu syar'i dengan menuliskannya. Dan, lebih dari itu, nanti kita bisa mendesain perilaku atau kebiasaan tersebut mampu terekseskusi, Insya Allah. 
          
***

Desain Kebiasaan Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya


WhatsApp Salafy Asyik Belajar dan Menulis

Posting Komentar untuk "3 Variabel Perilaku - Kebiasaan - Amal Perbuatan"

Menjadi Terampil Menulis
Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Menulis Cerita

Kisah Nyata
rasa Novel


Bahasa Arab
Nahwu
Mutammimah

Bahasa Arab
Sharaf
Kitabut Tashrif

Menulis Cerita Lanjutan
Kelindan
Kisah-kisah Nyata


Bahasa Indonesia
Belajar
Kalimat

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel


Bahasa Indonesia
Belajar
Kata

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

Disalin oleh belajar.icu
Blog Seputar Mendesain Kebiasaan Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya,
mudah, sedikit demi sedikit,
dan
saban hari.