Widget HTML #1

#22 Amarah, Sebab-sebab dan Pengobatannya

          Ketahuilah, bahwasanya 
  • amarah itu adalah kobaran api neraka
  • Ketika seorang insan mulai padanya kemarahan, salah satu uratnya tercabut kepada setan terlaknat
  • Setan berkata, sebagaimana dikisahkan oleh Allah ta'ala,
          "Aku Engkau ciptakan dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (al-A'raf: 12).
  • Kondisi tanah itu tenang dan diam
  • sedangkan api itu menyala-nyala dan berkobar-kobar, bergerak dan tidak tenang.
  • Dan, efek (hasil - pent.) amarah adalah, dendam (kebencian - pent.) dan hasad.
          Di antara yang menunjukkan tercelanya amarah adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada seorang lelaki yang berkata kepada beliau, 

          "Berilah saya wasiat." 

          Beliau menjawab, "Janganlah engkau marah." 

          Lelaki itu mengucapkan ucapannya bekali-kali, 

          Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selalu menjawab, "Janganlah engkau marah."

Hadits shahih: dikeluarkan oleh al-Bukhari (6116) al-Adab, dan at-Tirmidzi (2020) البر و الصلة dan Ahmad (9682) dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, dan Abu Isa berkata ((dan di dalam bab dari Abu Said dan Sulaiman bin Shuradin, dan ini hadits hasan shahih gharib dari sisi ini)).

          Dan, pada hadits yang lain, bahwasanya Ibnu Amr - radhiallahu 'anhu - bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Amalan apa yang akan menjauhkan saya dari murka Allah?" 

          Beliau menjawab, "Janganlah engkau marah."

Hadits hasan: dikeluarkan oleh Ahmad (6597), dan Ibnu Hibban (1971) ((موارد)) dan di dalam sanadnya ada ابن لهيعة عن دراج , dan dihasankan oleh al-Albani sebagaimana di dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib (2747) dari Ibnu Umar.

          Di dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim (mutafaq 'alaih - ed.) dari hadits Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu berkata, telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam,
          "..., bukanlah orang yang kuat itu yang membanting lawan, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan diri ketika marah."

Hadits shahih: dikeluarkan oleh Muslim (2608) dari Abdullah bin Mas'ud.

          Dan, dari Ikrimah tentang firman Allah ta'ala,
          "Menjadi pemimpin, menahan diri (dari hawa nafsu)." (Ali 'Imran: 39)
         Ikrimah berkata, "(Maksudnya) pemimpin yang mampu mengendalikan diri ketika marah dan tidak dikuasai amarah."

         Dan, dikatakan bahwasannya Dzulqarnain bertemu dengan salah satu malaikat dari para malaikat, maka Dzulqarnain berkata, "Ajari aku ilmu yang akan menambah iman dan keyakinan."

         Sang malaikat menjawab, 
  • "Jangan marah
  • sesungguhnya setan mampu untuk menguasai anak Adam ketika ia marah. 
  • Maka, tolaklah kemarahan itu dengan menahannya 
  • dan tenangkan ia dengan bersikap perlahan-lahan
  • Waspadalah terhadap sikap tergesa-gesa
  • karena jika engkau tergesa-gesa, engkau akan terlewat (engkau salah - ed.) keberuntunganmu. 
  • Maka, jadikanlah urusanmu mudah dan lembut bagi keluarga dekat maupun keluarga jauh, 
  • dan janganlah menjadi orang yang sewenang-wenang lagi keras kepala."
         Dan, dikatakan sesungguhnya Iblis - laknat Allah atasnya - menampakkan diri (terlihat - pent.) di hadapan Musa - alaihis salam - , dan ia berkata, 
  • "Wahai Musa, jauhilah sifat lekas marah (tajam - pent.), 
  • karena sesungguhnya aku mempermainkan seorang lelaki yang pemarah seperti seorang anak memainkan bola
  • dan waspadalah terhadap wanita
  • karena sesungguhnya aku belum pernah memasang perangkap (jebakan) yang lebih kokoh pada diriku daripada perangkap yang kokoh pada seorang wanita, 
  • dan jauhilah sifat rakus
  • sesungguhnya aku menghancurkan (merusak - pent.) atas orang yang rakus kehidupan dunia dan akhiratnya."
         Dan, pernah dikatakan, "Waspadalah terhadap amarah, karena sesungguhnya amarah merusak keimanan sebagaimana shabir merusak madu. Kemarahan itu musuh bagi akal."

Hakikat Amarah

          Adalah:
  • mendidihnya darah di dalam kalbu untuk menuntut balas dendam. Ketika seorang insan marah tersulutlah api kemarahan berkobar mendidihkan darah di dalam kalbu.
  • Dan, selanjutnya darah tersebut menyebar ke seluruh pembuluh darah, lalu naik ke tubuh bagian atas, seperti naiknya air yang mendidih di dalam periuk. Yang demikian itu, membuat wajah, mata dan kulitnya memerah
  • Dan, semua itu (warna merah pada anggota tubuh tersebut - ed.) menunjukkan warna di baliknya dari merahnya darah, bagaikan apa yang tergambar pada kaca dari warna sesuatu yang ada di baliknya.
  • Darah itu akan menyebar (mengembang - meluas - ed) kepada orang yang kedudukannya lebih rendah daripada dirinya (orang yang marah - ed.) dan ia merasa mampu melampiaskan kepada orang tersebut.
          Namun, bila kemarahan itu kepada orang yang kedudukannya di atasnya
  • maka ia berputus asa dari balas dendam tersebut. 
  • Itu akan terlihat dengan menyusutnya (kontraksi - ed.) darah dari permukaan kulit masuk kembali ke dalam kalbu
  • Ia pun menjadi sedih, yang demikian tersebut membuat warnanya (kulit - ed.) menguning (memucat).
          Jika ia marah kepada seorang teman yang sama kedudukannya dengannya,
  • dan ia ragu padanya (mau marah apa tidak - ed.)
  • maka darahnyapun akan berbolak-balik antara menyusut dan menyebar (mengembang - meluas - pent.)
  • Maka, berubah-ubahlah warna kulitnya antara memerah dan menguning, dan percampuran antara keduanya.
Semakin ambisi ingin membalas dendam, maka akan semakin kuat pula amarah tersebut.

          Manusia, dalam hal kekuatan amarah terbagi atas tiga tingkatan: berlebihan, lemah dan pertengahan.

1 - Berlebihan, dalam marah adalah tidak terpuji, 
  • karena hal tersebut akan mengeluarkan akal dan agama yang merupakan hal kebijakan bagi keduanya. 
  • Maka, yang demikian itu membuat manusia tidak menetap pada mereka pertimbangan (pandangan - wawasan - ed.), pemikiran maupun pilihan-pilihan.
2 - Lemah, dalam amarah juga merupakan hal yang tercela, 
  • karena membuat tidak adanya, keberanian dan kecemburuan
  • Dan, barang siapa tidak memiliki amarah sama sekali, ia akan lemah dalam latihan jiwa
  • Sebab, latihan jiwa ini akan sempurna jika amarah bisa menguasai syahwatnya. Maksudnya, ia akan marah jika jiwanya ketika cenderung kepada syahwat-syahwat yang hina (buruk - pent.).
3 - Jadi, amarah itu tercela
  • Maka seharusnya ia menempuh jalan pertengahan di antara dua sikap di atas tersebut.
          Ketahuilah, bahwa sesungguhnya jika api kemarahan itu semakin kuat dan berkobar (meradang - pent.)
  • maka butalah pemiliknya, 
  • dan tulilah (diam - pent.) dari semua nasehat
  • Itu dikarenakan amarah itu naik sampai ke otak 
  • dan menutupi area berpikir
  • Bahkan mungkin melampaui sampai area fisik, matanya menjadi gelap 
  • sehingga ia tak sanggup melihat dengan matanya
  • Dan kegelapan dunia menguasainya. 
  • Otaknya pun menjadi bagaikan gua yang penuh nyala api
  • Maka, menghitamlah kondisinya, dan jenuh dengan panas (demam - pent.) , pun dipenuhi asap.
          Dan, di dalam gua itu, 
  • ada pelita yang redup, lalu padam. 
  • Kaki tak mampu berpijak kokoh di situ, 
  • tidak terdengar lagi kata,
  • dan tidak terlihat pula satupun gambar (bentuk - pent.). 
  • Api tak mampu lagi dipadamkan.
          Maka, demikianlah amarah berakibat di dalam kalbu dan otak. Dan, bahkan bisa jadi kemarahan semakin bertambah, yang akhirnya sanggup membunuh pemiliknya.

          Dan, tanda-tanda amarah pada lahiriah seseorang adalah:

Berubahnya warna kulit.

Bergetar (gemetar - pent.) ujung-ujung anggota tubuh dengan kuat.

✓ Timbulnya perilaku-perilaku yang keluar dari keteraturan, hal yang tak mungkin terjadi sesuai pada penciptaan sebagai insan yang normal.

✓ Tanpa sadar melakukan perbuatan orang-orang gila.

          Seandainya orang yang marah itu 
  • melihat bentuk keadaan penampilan dia ketika marah, 
  • dan betapa jeleknya ketika ia dalam keadaan marah itu
  • maka ia akan lebih sadar lagi, sesungguhnya buruknya batin lebih parah (besar - pent.).

Pasal penjelasan tentang sebab-sebab yang mendorong Amarah dan Pengobatannya

          Telah engkau ketahui, bahwa pengobatan penyakit, adalah dengan cara memutus unsur-unsurnya dan dihilangkan penyebab-penyebabnya.

          Dan, di antara sebab-sebab kemarahan adalah:

Ujub (bangga, kagum terhadap diri sendiri - ed.)
Bercanda 
Perdebatan (debat kusir - ed.)
Pertentangan (konflik, perselisihan - ed.)
Pengkhianatan (tidak amanah - ed.)
Ambisi berlebihan kepada keutamaan harta dan kedudukan (cinta harta, cinta status sosial - ed.)

          Itu semua akhlaq yang hina dan tercela menurut syariat. Oleh karena itu, 
  • sepantasnya setiap orang untuk menyingkirkan semua sifat itu, 
  • dengan melawannya secara sungguh-sungguh 
  • dengan sifat-sifat kebalikannya
          Hendaknya ia serius untuk menuntaskan unsur-unsur dan memutus sebab-sebab kemarahan.

          Sedangkan, bila kemarahan itu terlanjur berkecamuk, maka pengobatannya dengan beberapa cara:

1 - Hendaknya berpikir tentang hadits-hadits dan atsar Salaf tentang keutamaan menahan amarah, lemah-lembut, sifat mudah memaafkan.
          Sebagaimana telah datang dalam periwayatan al-Bukhari dari hadits Ibnu Abbas - radhiallahu anhuma - bahwasanya ada seorang laki-laki yang meminta izin menemui 'Umar - radhiallahu anhu -, maka beliaupun mengizinkannya. Maka orang itu berkata kepada 'Umar, "Wahai Ibnul Khaththab, demi Allah, engkau tidak memberi kepada kami pemberian yang banyak, dan engkau tidak menghukumi di antara kami dengan adil."

          Maka, serta-merta Umar marah, sampai-sampai Umar ingin rasanya menjatuhi hukuman kepadanya. 

          Sejenak kemudian, al-Hurr bin Qais berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam,
          'Jadilah pemaaf, perintahkanlah kebaikan, dan berpalinglah dari orang-orang jahil.' " (al-A'raf: 199)

          "Dan sesungguhnya orang ini termasuk orang-orang jahil," lanjut al-Hurr bin Qais.

          Demi Allah, Umar radhiallahu 'anhu tidak melanggar ayat tersebut, ketika dibacakan ayat tersebut kepadanya. Dan Umar berdiri di sisi Kitabullah 'Azza wa Jalla.

Hadits shahih: dikeluarkan oleh al-Bukhari (4642) dari Ibnu Abbas - radhiallahu 'anhu.

2 - Hendaknya ia menakut-nakuti dirinya akan hukuman Allah ta'ala
          dan ia untuk berkata, "Kemampuan Allah lebih besar dari kemampuanku terhadap insan (yang aku marahi - ed.). Jika aku melampiaskan kepadanya dengan kemarahanku, maka aku tidak aman dari kemurkaan Allah 'Azza wa Jalla atasku pada hari Kiamat, ketika aku sedang dalam keadaan membutuhkan ampunan-Nya."

         Dan, Allah ta'ala telah berfirman pada sebagian kitab-Nya,
         "Wahai, anak Adam, ingatlah kepadaku ketika marah, Aku akan mengingatmu ketika Aku marah, dan Aku tidak akan menghakimimu di antara orang-orang yang Aku hakimi."

3 - Hendaknya memperingatkan dirinya sendiri tentang akibat permusuhan, dan membalas dendam. 
          Permusuhan akan mendorong untuk; 
  • merendahkan kehormatan musuh
  • dan merasa senang atas musibah-musibah yang menimpa musuh
  • Padahal, setiap insan tak akan lepas dari musibah-musibah. 
  • Sehingga, hendaknya dirinya takut yang demikian itu menimpanya di dunia, kalaupun ia tidak takut musibah di akhirat.
  • Sikap-sikap tersebut (permusuhan, balas dendam, merndahkan kehormatan, merasa senang atas musibah musuh, dan seterusnya - ed) adalah dilampiaskan hawa nafsu dalam bentuk amarah
  • Tak ada pahala atasnya, karena hal tersebut mendahului sebagian keberuntungan di atas bagian lainnya. 
         Namun, jika ia berada pada kewaspadaannya (menahan amarah - sabar - ed.) untuk 
  • mengubah urusan tersebut atas dirinya, 
  • hal tersebut akan membantunya meraih (keutamaan - ed.) akhirat, maka ia diberi pahala karenanya(kesabarannya - ed.)
4 - Hendaknya merenungi (berpikir - pent.) tentang jeleknya penampilannya ketika sedang marah, sebagaimana telah disebutkan terdahulu. 
  • Dan bahwasanya ia bagikan anjing yang membahayakan dan singa yang buas. 
  • Sesungguhnya ia dalam keadaan bertentangan dengan akhlaq para Nabi dan Ulama dalam kebiasaan mereka. 
  • Dengan merenungi ini, maka jiwanya akan cenderung kepada meneladani mereka.
5 - Hendaknya pula, memikirkan sebab yang menyeretnya kepada balas dendam.
          Sebagai contoh, sebab kemarahannya adalah dikarenakan setan membisikkan kepadanya, "Sesungguhnya orang ini akan membawa dirimu kepada kelemahan, rendah, kehinaan, dan berjiwa kerdil, sehingga engkau menjadi tercela dalam pandangan manusia."

          Jika ada bisikan setan seperti itu, maka hendaknya ia berkata pada dirinya, "Engkau mungkin tak bersabar (mengeluh - ed.) sekarang, namun apakah engkau tak merasa malu di hari Kiamat,  dengan terbongkarnya hal tersebut, dan jika ia (orang yang dimarahi - ed.) mengambil tanganmu dan membalas dendam perbuatanmu. Engkau hati-hati terhadap rendahnya dalam pandangan manusia, akan tetapi engkau tidak berwaspada dari rendahnya dirimu di sisi Allah ta'ala, Malaikat dan para Nabi."

          Dan, sepantasnya; 
  • untuknya menahan amarah
  • karena yang demikian itu memuliakannya di sisi Allah ta'ala. 
  • Maka, apa urusannya dengan manusia?
  • Apakah ia tidak mewajibkan dirinya menjadi orang yang berdiri di hari Kiamat, ketika penyeru memanggil, "Berdirilah orang yang telah ditetapkan pahalanya atas Allah!" Dan tidaklah orang yang berdiri, kecuali orang yang memberi maaf.
  • Hal ini, dan yang semisalnya sepantasnya untuk ia tanamkan pada kalbunya.
6 - Hendaknya ia menyadari bahwa sesungguhnya kemarahannya itu adalah sesuatu yang berlangsung berdasarkan kehendak Allah ta'ala, bukan berdasarkan kehendak dirinya
          Maka, bagaimana pula kehendak dirinya mendahului atas kehendak Allah ta'ala?
          Maka, sepantasnya mengetahui hal tersebut, sebelum ia terjatuh pada kemarahan. Sehingga mengetahui bagaimana mengantisipasinya bila terjatuh pada amarah tersebut.

          Adapun terapi (pengobatan - ed.) dengan tindakan, hendaknya:

Menenangkan diri (hening - diam - pent.)
Ber ta'awudz (meminta perlindungan kepada Allah ta'ala dari setan).
Mengubah posisi, 
  • jika ia marah ketika berdiri hendaknya duduk.
  • Jika ia marah ketika duduk hendaknya berbaring.
✓ Kita juga diperintah untuk berwudhu ketika sedang marah.

         Semua tindakan tersebut di atas telah disebutkan di dalam beberapa hadits.

         Sedangkan hikmah tindakan wudhu ketika marah, telah dijelaskan oleh Rasulullah - shallallahu 'alaihi wa sallam - di dalam hadits, seperti yang telah diriwayatkan Abu Wa'il, ia berkata, 
          "Suatu ketika kami berada di sisi Urwah bin Muhammad. Serta merta, ada seorang lelaki yang berbicara kepadanya dengan suatu pembicaraan, lalu Urwah marah dengan kemarahan yang besar. Urwah pun berdiri dan berwudhu, lalu ia datang kembali dan berkata, 'Ayahku telah mengabarkan kepadaku, dari kakekku yaitu 'Athiyah - salah seorang sahabat Rasulullah - shallallahu 'alaihi sallam - berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sesungguhnya amarah itu berasal dari setan, setan diciptakan dari api, dan api hanya padam dengan air. Oleh karena itu, apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaknya ia berwudhu."

Hadits dhaif: dikeluarkan oleh Abu Dawud (4784) al-Adab, dan Ahmad (17524) dan didhaifkan oleh al-Albani, lihat Dhaif al-Jami' (1510)

          Sedangkan duduk dan berbaring, orang yang marah diperintahkan yang demikian itu, 
  • kemungkinan agar lebih dekat ke tanah, asal penciptaannya, 
  • sehingga ia ingat kepada asalnya dan merasa dihinakan. 
  • Dan kemungkinan juga agar tawadhu'  (rendah hati - pent.) dengan kehinaannya itu
  • Dikarenakan kemarahan itu tumbuh dari sifat sombong
          Hal itu, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau menyebutkan tentang amarah dan berkata, 
          "Barang siapa mendapati sedikit dari yang demikan itu (amarah), hendaknya ia menempelkan pipinya ke tanah."

Hadits dhaif: dikeluarkan at-Tirmidzi (2191) al-Fitan, dan Ahmad (11193) dari Ali bin Zaid, dari Abu نضرة , dari Abu Said al-Khudri, dan didhaifkan oleh al-Albani dalam Dhaif at-Tirmidzi.

          Dikisahkan, al-Mahdi marah kepada seorang lelaki, maka iapun meminta cambuk. Ketika Syabib melihat kemarahan al-Mahdi begitu besar, sementara orang-orang terdiam, tak berucap sepatah kata pun, maka Syabib pun berkata, "Wahai Amirul Mukminin, Janganlah membuat Allah semakin murka daripada kemarahanmu kepada lelaki ini." Maka al-Mahdi berkata, "Berikan jalannya! (biarkan ia pergi - ed.)."

Pasal Menahan Amarah

          Allah ta'ala berfirman,
          "Dan orang-orang yang menahan amarah."(Ali 'Imran: 134)

           Allah menyebutkan sifat menahan amarah tersebut untuk menunjukkan pujian pada sifat tersebut.

         Dan, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, 
         "Barang siapa menahan amarah padahal ia bisa melampiaskannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk, lalu menyuruhnya memilih bidadari mana yang ia sukai."

Hadits shahih: dikeluarkan oleh at-Tirmidzi (2021) البر و الصلة , dan Abu Dawud (4777), dan Ibnu Majah (4186) الزهد , dan Ahmad (15210), dan dishahihkan oleh al-Albani, lihat ash-Shahihah (1750).

         Dan, diriwayatkan dari Umar radhiallahu 'anhu, bahwasanya ia berkata, 
         "Barang siapa bertakwa kepada Allah, ia tak akan meluapkan kemarahannya. Barang siapa takut kepada Allah, ia tidak akan berbuat sekehendaknya. Kalaulah bukan karena adanya hari Kiamat, tentulah terjadi selain yang kalian saksikan."

Bibliografi

  • Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin - Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
  • Buku terjemahan - Mukhtashar Minhajul Qashidin - At-Tuqa
  • Kajian Islam Mukhtashar Minhajul Qashidin - Al-Ustadz Qomar ZA, Lc - Masjid Umar Ibnul Khaththab, Ponpes Darul Atsar, Kedu

Mau belajar Mukhtashar Minhajul Qashidin via daring (online), ikuti tahapannya, TAP /KETUK > di bawah ini:
Mukhtashar Minhajul Qashidin
Belajar dengan Menulis Saban Hari

***

Mau Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya, mudah, sedikit demi sedikit, dan saban hari, TAP /KETUK > di bawah ini:
WhatsApp Salafy Asyik Belajar dan Menulis

Posting Komentar untuk "#22 Amarah, Sebab-sebab dan Pengobatannya"

Menjadi Terampil Menulis
Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Menulis Cerita

Kisah Nyata
rasa Novel


Bahasa Arab
Nahwu
Mutammimah

Bahasa Arab
Sharaf
Kitabut Tashrif

Menulis Cerita Lanjutan
Kelindan
Kisah-kisah Nyata


Bahasa Indonesia
Belajar
Kalimat

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel


Bahasa Indonesia
Belajar
Kata

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

Disalin oleh belajar.icu
Blog Seputar Mendesain Kebiasaan Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya,
mudah, sedikit demi sedikit,
dan
saban hari.