Widget HTML #1

#20 Bencana Lisan - Pujian

11. Pujian

          Pujian, memiliki banyak bencana, baik terkait orang yang memuji maupun orang yang dipuji.

Orang yang memuji

          Bencana terkait orang yang memuji:

          Terkadang memuji (berkata - ed.) dengan apa-apa yang tidak diketahuinya kebenarannya, (berlebihan - ed.) 

          Misalnya, 

ia berkata, "Sesungguhnya dia itu wara' dan zuhud." 
  • Boleh jadi, ia berlebihan dalam memuji, 
  • sehingga akhirnya ia terseret kepada ucapan dusta. 
  • Bisa juga ia terjerumus kepada memuji orang yang justru pantas dicela.
          Dan, telah diriwayatkan di dalam hadits,
          "Sesungguhnya Allah ta'ala murka, jika orang fasik dipuji."

Hadits dhaif: didhaifkan oleh al-Albani dalam Dhaif al-Jami' (1746) dari Anas.

         Al-Hasan telah berkata, 
         "Barang siapa mendoakan orang zalim dengan panjang umur (agar tetap tinggal - pent.), berarti ia suka jika Allah dimaksiati."

Orang yang dipuji

          Adapun, bencana terkait orang yang dipuji:

         Sesungguhnya orang yang dipuji, bisa menimbulkan rasa sombong dan ujub pada dirinya, Padahal kedua sifat tersebut akan membinasakannya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
         "Celaka engkau! Engkau telah memenggal leher temanmu sendiri! …" (sampai akhir hadits).

Hadits shahih: dikeluarkan oleh al-Bukhari (2662) الشهادات, dan Muslim (3000) الزهد و الرقاىٔق dari Abu Bakrah.

         Hadits tersebut sangat terkenal.

         Dan, kami meriwayatkan dari al-Hasan telah berkisah, 

         "Suatu ketika Umar radhiallahu 'anhu dalam keadaan duduk, padanya ada kantong susu dan orang-orang berada di sekitar beliau. 

         Tiba-tiba datanglah al-Jarud.

         Lalu seorang lelaki berkata, 'Ini dia sayyid.' (tokoh - pemimpin - pent.).

         Maka, Umar radhiallahu 'anhu dan orang-orang di sekitarnya mendengar ucapan tersebut. Al-Jarud pun juga mendengarnya.

         Maka, ketika al-Jarud mendekati (mendatangi - ed.) Umar radhiallahu 'anhu, Umar pun memukulnya dengan kantong susu tersebut.

         Maka, al-Jarud pun bertanya, 'Apa urusanku dengan engkau, wahai Amirul Mukminin?'

         'Tidak ada urusanku dengan engkau,' jawab Umar, lalu melanjutkan, 'tidakkah engkau mendengarnya?' (perkataan lelaki yang mengandung pujian tersebut - ed.).

         Al-Jarud menjawab, 'Aku mendengarnya, lalu ada apa?'

         'Aku khawatir, kalbumu terkotori oleh sesuatu dari pujian tersebut, maka aku ingin agar engkau tak terpedaya olehnya.' "

         Ini dikarenakan, seorang insan jika dipuji, ia akan ridha terhadap dirinya sendiri, dan ia menganggap bahwa dirinya telah mencapai tujuan (maksudnya - pent.), akhirnya ia akan lemah dalam beramal, maka dari itulah Rasulullah - shallallahu 'alaihi wa sallam  - bersabda, 
         "Engkau telah memenggal leher temanmu …"

         Namun, jika pujian tersebut selamat dari bencana-bencana tersebut, maka tak mengapa untuk memuji. Nabi - shallallahu 'alaihi wa sallam - pernah memuji atas Abu Bakar dan 'Umar - radhiallahu 'anhuma - dan juga selain keduanya dari para sahabat - radhiallahu 'anhum.

         Maka, wajib atas orang yang dipuji untuk 
  • berusaha keras membebaskan diri (menghindari - mencegah - ed.) dari bencana sombong dan ujub
  • dan lemah dalam beramal
  • Ia tak akan selamat dari bencana-bencana ini, kecuali dari mengetahui kadar dirinya
          Sepantasnya dia berpikir, 

bahwasanya orang yang memujinya itu jika tahu akan dirinya (orang yang dipuji - ed.), yakni apa yang tidak diketahui orang yang memuji, tentu orang tersebut tak akan memujinya.

          Telah diriwayatkan bahwasanya seorang lelaki dari orang-orang shaleh dipuji, maka iapun berkata, 
          "Ya Allah, sesungguhnya mereka tidak mengetahui tentang hakikat diriku, tetapi Engkau Maha Mengetahui tentangku."

Bibliografi

  • Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin - Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
  • Buku terjemahan - Mukhtashar Minhajul Qashidin - At-Tuqa
  • Kajian Islam Mukhtashar Minhajul Qashidin - Al-Ustadz Qomar ZA, Lc - Masjid Umar Ibnul Khaththab, Ponpes Darul Atsar, Kedu

Mau belajar Mukhtashar Minhajul Qashidin via daring (online), ikuti tahapannya, TAP /KETUK > di bawah ini:
Mukhtashar Minhajul Qashidin
Belajar dengan Menulis Saban Hari

***

Mau Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya, mudah, sedikit demi sedikit, dan saban hari, TAP /KETUK > di bawah ini:
WhatsApp Salafy Asyik Belajar dan Menulis

Posting Komentar untuk "#20 Bencana Lisan - Pujian"

Menjadi Terampil Menulis
Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Menulis Cerita

Kisah Nyata
rasa Novel


Bahasa Arab
Nahwu
Mutammimah

Bahasa Arab
Sharaf
Kitabut Tashrif

Menulis Cerita Lanjutan
Kelindan
Kisah-kisah Nyata


Bahasa Indonesia
Belajar
Kalimat

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel


Bahasa Indonesia
Belajar
Kata

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

Disalin oleh belajar.icu
Blog Seputar Mendesain Kebiasaan Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya,
mudah, sedikit demi sedikit,
dan
saban hari.