Widget HTML #1

#17 Pasal Penjelasan Sebab-sebab yang Mendorong Ghibah, Terapi (pengobatannya), dan Prasangka Buruk menghasilkan Ghibah

Sebab-sebab yang Mendorong Ghibah

          Adapun, sebab-sebab yang mendorong untuk Ghibah, sangat banyak, yaitu:

1. Melampiaskan amarah
          Dikarenakan ada hal-hal yang berlangsung dari manusia terkait hak orang yang lainnya, bisa menyebabkan kemarahannya, maka sewaktu-waktu itu, 
  • memicu rasa ingin marah
  • ia pun melampiaskannya dengan menggibahinya.

2. Menyesuaikan diri dengan teman-teman
          Selain itu, motif ghibah, adalah 
  • menyesuaikan diri dan 
  • untuk menjaga hubungan (mendapat sanjungan - satu pendapat - ed.) 
  • dan saling bantu antara teman.
          Ketika, mereka (teman-temannya) menjatuhkan kehormatan orang lain, ia menganggap bahwa 
  • jika ia mengingkari teman-temannya 
  • atau memotong pengghibahan mereka, 
  • tentu ia akan dimusuhi dan dijauhi
  • Oleh karena itu, ia pun membantu mereka dan menganggap yang demikian itu sebagai baiknya pergaulan.


3. Ambisi untuk memuliakan (mengangkat) dirinya dengan merendahkan orang lain
          Maka, ia pun berkata, "Fulan itu bodoh, dan berpemahaman lemah (membosankan - itu-itu saja - klise - ed.).". Dan yang semisalnya. 

          Di balik itu, ia memiliki tujuan untuk 
  • membuktikan keutamaan dirinya
  • dan menunjukkan kepada orang-orang bahwa dirinya lebih alim (berilmu) darinya.
          Demikian pula, 
  • kedengkian terhadap pujian manusia kepada seseorang, 
  • serta kecintaan dan pemuliaan orang-orang kepada seseorang tersebut
  • Maka, ia pun menjelek-jelekkan orang tersebut dengan maksud pujian tersebut hilang darinya.

4. Bermain-main dan bercanda
          Dia menyebutkan (mengghibahi - ed.) orang lain dengan cara menirukannya agar manusia tertawa. Bahkan, sebagian manusia menjadikan hal ini sebagai profesi (usahanya - pelawak - ed.).

Terapi (pengobatan) Ghibah

          Sedangkan terapi (pengobatan) ghibah, hendaknya orang yang mengghibah mengetahui bahwa dengan ghibah akan, 
  • terkena kemurkaan dan kebencian Allah terhadapnya
  • dan sesungguhnya kebaikan-kebaikannya akan dipindahkan kepada orang yang dighibahi
  • Jika ia tak memiliki kebaikan, maka keburukan orang yang dighibahi akan dipindahkan kepadanya.
          Barang siapa menyadari keberadaan yang demikian itu, maka ia tidak akan melepaskan lisannya untuk berghibah.

          Maka, sepantasnya seseorang, jika ada kesempatan untuk berghibah, 

hendaknya ia memikirkan kekurangan dan aibnya sendiri, lalu
sibuk memperbaikinya.
✓ Hendaknya ia malu menyebutkan aib orang lain, sedangkan ia penuh aib.

          Sebagaimana ungkapan sebagian Salaf:

 Jika engkau mencela suatu kaum dengan yang ada padamu semisalnya.
Maka, bagaimana pula orang yang buta mencela orang lain.
Jika engkau mencela suatu kaum dengan yang tak ada pada mereka.
Maka, yang demikian itu lebih parah di sisi Allah dan manusia.

          Jika ia, 
  • menyangka bahwa dirinya selamat dari aib-aib dan kekurangan
  • maka hendaknya, ia sibuk dengan mensyukuri atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. 
  • Dan, janganlah ia mengotori dirinya dengan seburuk-buruk aib yaitu ghibah. 
  • Jika dirinya tidak rela (ridha) dighibahi oleh orang lain,
  • begitu pula sepantasnya orang lain tidak rela (ridha) dighibahi olehnya.
          Maka, perhatikan pada,
  • sebab-sebab yang mendorong untuk berghibah
  • Dan, berusaha sungguh-sungguh untuk memutuskannya. 
  • Karena, mengobati penyakit adalah dengan memutus sebab-sebabnya. 
          Dan, kami telah menyebutkan sebagian sebab-sebabnya.

(Berikut, dikutip kembali secara singkat untuk mengingatkan lagi - ed.):

1. Melampiaskan amarah
2. Menyesuaikan diri dengan teman-teman
3. Ambisi memuliakan diri, dan dengki terhadap pujian kepada orang lain, dengan merendahkan orang lain.
4. Bermain-main dan bercanda menirukan orang lain, agar orang-orang tertawa.

          Insya Allah, kami akan menyebutkan pengobatan (terapi) penyakit amarah, dalam "Kitab Amarah"

         Adapun sebab no. 2 yaitu menyesuaikan diri dengan teman-teman, pengobatannya dengan:

✓ Mengetahui bahwa Allah marah kepada siapa saja yang mencari keridhaan makhluq, imbalannya tentu kemurkaan-Nya, maka sebaliknya
✓ Sepantasnya ia marah kepada teman-temannya.

        Seperti inilah, terapi yang terakhir tersisa.

Prasangka Buruk menghasilkan Ghibah

          Terkadang dengan kalbu bisa menghasilkan ghibah, yaitu berprasangka buruk kepada kaum muslimin.

          Dan, prasangka buruk ini disukai oleh jiwa, kalbu cenderung kepada prasangka buruk. 

          Tidak seharusnya engkau memiliki prasangka buruk kepada seorang muslim, 
  • kecuali jika tampak kejelekan yang terungkap dari urusannya (kejelekannya - ed.) yang tidak mungkin lagi bisa ditafsirkan kepada yang baik (dicarikan alasan - ed.).
          Maka, jika ada, 

seseorang yang adil mengabarkan kepada engkau tentang keburukan tersebut, lalu kalbumu cenderung membenarkan, engkau mendapat uzur. 

✓ Sebab bila engkau mendustakannya, engkau justru berprasangka buruk kepada sang pembawa berita (seseorang yang adil tersebut - ed.)

✓ Tidak sepantasnya engkau untuk berprasangka baik kepada seseorang, sebaliknya juga berprasangka buruk kepada yang lain. 
> Akan tetapi, hendaknya memandang (mencari tahu - pent) apakah di antara keduanya itu ada permusuhan dan kedengkian? Ketika telah mendapatkan sebabnya (titik terangnya - pent), barulah engkau menuduhnya.

✓ Kapanpun engkau berpikiran buruk terhadap seorang muslim, maka hendaknya lebih mempertimbangkan dan mendoakannya dengan kebaikan. Karena berpikiran buruk membuat setan menggoda dan mendorong untuk engkau berprasangka buruk.

✓ Dengan demikian, setan tidak akan melemparkan pikiran buruk ke dalam kalbumu karena takut terhadap sibuknya engkau dengan doa dan pertimbangan (perhatian - pent) kepadanya.

✓ Dan, jika kesalahan seorang muslim itu telah nyata terbukti, maka nasihatilah dengan diam-diam.

          Dan, ketahuilah bahwa di antara 
  • buah hasil daripada prasangka buruk adalah tindakan memata-matai
  • Sebab, kalbu tidak akan yakin (puas) dengan prasangka, maka kalbu akan berambisi mencari bukti atas prasangkanya. Sehingga ia sibuk memata-matai. 
  • Yang demikian itu terlarang
  • karena akan menyeret kepada membongkar rahasia seorang muslim.
          Jika rahasia seorang muslim itu tidak terungkap bagimu, tentu kalbumu lebih selamat dari prasangka buruk kepada sesama muslim.

Bibliografi

  • Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin - Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
  • Buku terjemahan - Mukhtashar Minhajul Qashidin - At-Tuqa
  • Kajian Islam Mukhtashar Minhajul Qashidin - Al-Ustadz Qomar ZA, Lc - Masjid Umar Ibnul Khaththab, Ponpes Darul Atsar, Kedu, Temanggung

Mukhtashar Minhajul Qashidin
Belajar dengan Menulis Saban Hari

***

WhatsApp Salafy Asyik Belajar dan Menulis

Posting Komentar untuk "#17 Pasal Penjelasan Sebab-sebab yang Mendorong Ghibah, Terapi (pengobatannya), dan Prasangka Buruk menghasilkan Ghibah"

Menjadi Terampil Menulis
Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Menulis Cerita

Kisah Nyata
rasa Novel


Bahasa Arab
Nahwu
Mutammimah

Bahasa Arab
Sharaf
Kitabut Tashrif

Menulis Cerita Lanjutan

Biografi Inspiratif

Bahasa Indonesia
Belajar
Kalimat

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel


Bahasa Indonesia
Belajar
Kata

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

Disalin oleh belajar.icu
Blog Seputar Mendesain Kebiasaan Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya,
mudah, sedikit demi sedikit,
dan
saban hari.