Widget HTML #1

#12 Menghancurkan (mengekang) Syahwat Perut

          Syahwat perut adalah salah satu di antara pembinasa terbesar. Dengan sebab inilah Nabi Adam alaihi salam dikeluarkan dari al-Jannah (Syurga). Kemudian dari syahwat perut inilah lahir syahwat kemaluan dan kecintaan terhadap harta benda.

          Syahwat perut diikuti oleh banyak petaka, yang muncul akibat dari rasa kenyang.

          Dari sebuah hadits, Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, 
          "Orang beriman makan dalam satu usus, sedangkan orang kafir makan dalam tujuh usus."

Hadits shahih: dikeluarkan oleh al-Bukhari (5397) الْأطعمة , dan Muslim (2062) الْأشربة , dari Abu Hurairah, dan dari Bab dari Ibnu Umar dan Abu Musa.

         Dan, dalam hadits yang lain, Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, 

          "Tidaklah Anak Adam mengisi wadah yang lebih jelek daripada perutnya. Cukuplah bagi Anak Adam beberapa suapan yang bisa menegakkan tulang belakangnya. Jika memang harus makan, hendaknya ia jadikan sepertiga perut untuk makanannya, sepertiga berikutnya untuk minumannya, dan sepertiga yang terakhir untuk nafasnya."

Hadits shahih, telah disebutkan takhrijnya, halaman (63).

           Dan, 'Uqbah ar-Rabisi, telah berkisah,    
          "Aku pernah menemui al-Hasan, ketika itu ia sedang makan siang.
          'Kemarilah,' ajak al-Hasan (mengajak makan - red).
          Maka aku menjawab, 'Aku sudah makan, sampai tidak mampu lagi (untuk makan).'
          Al-Hasan pun berkomentar, 'Subhanallah, apakah seorang muslim itu makan sampai tidak sanggup lagi makan?'

          Sungguh, sekelompok orang yang zuhud telah berlebihan dalam menyedikitkan makan dan bersabar dalam keadaan lapar. Dan, telah kami jelaskan aib tindakan mereka ini dalam kitab yang lain.

          Dasar penetapan adil (seimbang) dalam perilaku makan adalah

mengangkat tangan (tidak lagi mengambil makanan) ketika masih ada keinginan sedikit untuk makan.

          Yang terbaik, adalah pada sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam,
          "Sepertiga perut untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafas."

          Makan dengan seimbang akan menyehatkan badan dan menghilangkan penyakit. Yang demikian itu dengan cara,
tidak makan kecuali jika telah ingin makan. Lalu,
mengangkat tangan (berhenti) ketika masih menginginkan.

          Selalu senantiasa makan sedikit akan melemahkan kekuatan badan. Dan, sebagian kaum menyedikitkan makan sampai tidak sanggup menunaikan berbagai kewajiban. Dengan kebodohan mereka, mereka meyakini bahwa hal tersebut adalah keutamaan.

          Bukan demikian, adapun orang-orang (para ahli suluk dan ulama) yang memuji (menganjurkan) rasa lapar, sesungguhnya mereka mengisyaratkan keadaan pertengahan yang telah disebutkan di atas.

Metode Latihan Mengekang Syahwat Perut 

          Dan, cara latihan dalam menghancurkan (mengekang) syahwat perut adalah:

Bahwa, bagi orang yang terbiasa senantiasa kenyang, hendaknya sepantasnya ia mengurangi makannya semudah mungkin ( sedikit demi sedikit), bersama berjalannya waktu. Ia lakukan itu dan berhenti ketika tercapai keseimbangan yang telah kami isyaratkan di atas. 

         Sebaik-baik urusan adalah pertengahan.

          Maka, yang utama adalah 
  • makan yang tidak menghalangi dari ibadah
  • Makanan tersebut hendaknya menjadi sebab bertahannya kekuatan
  • sehingga ia tidak merasa lapar ataupun tidak merasa kenyang
  • Maka, bila demikian itu akan membuat badan sehat
  • tekadnya terkumpul, dan 
  • pikiran menjadi terang.
          Ketika terlalu banyak makan akan berakibat; 
  • banyak tidur, 
  • bodohnya kefokusan. 
  • Yang demikian itu membuat banyaknya uap pada otak sehingga menutupi area berpikir dan tempat berdzikir, serta mendatangkan berbagai penyakit yang lain.

Bahaya Riya' dalam Latihan Mengekang Syahwat Perut

          Peringatan agar berhati-hati bagi seseorang yang meninggalkan berbagai syahwat, terhadap bahaya riya.

          Dahulu, sebagian Salaf,
  • membeli sesuatu yang disukai syahwat 
  • dan menggantungnya di dalam rumahnya, 
  • padahal ia zuhud terhadap sesuatu itu
  • Sesuatu tersebut ia gunakan untuk menyembunyikan kezuhudannya.
          Inilah yang disebut 
  • zuhud dalam kezuhudan
  • yaitu menampakkan hal yang sebaliknya. 
  • Inilah amalan orang-orang yang jujur. 
  • Sebab, ia jadikan dirinya meneguk cangkir kesabaran sebanyak dua kali
  • dan yang kali kedua lebih pahit.

Bibliografi

  • Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin - Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
  • Buku terjemahan - Mukhtashar Minhajul Qashidin - At-Tuqa
  • Kajian Islam Mukhtashar Minhajul Qashidin - Al-Ustadz Qomar ZA, Lc - Masjid Umar Ibnul Khaththab, Ponpes Darul Atsar, Kedu, Temanggung

Mukhtashar Minhajul Qashidin
Belajar dengan Menulis Saban Hari

***

WhatsApp Salafy Asyik Belajar dan Menulis

Posting Komentar untuk "#12 Menghancurkan (mengekang) Syahwat Perut"

Menjadi Terampil Menulis
Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Menulis Cerita

Kisah Nyata
rasa Novel


Bahasa Arab
Nahwu
Mutammimah

Bahasa Arab
Sharaf
Kitabut Tashrif

Menulis Cerita Lanjutan

Biografi Inspiratif

Bahasa Indonesia
Belajar
Kalimat

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel


Bahasa Indonesia
Belajar
Kata

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

Disalin oleh belajar.icu
Blog Seputar Mendesain Kebiasaan Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya,
mudah, sedikit demi sedikit,
dan
saban hari.