Widget HTML #1

#05 Pasal Pertama: Mengubah Akhlaq, Bisa! - Insya Allah

          Sebagian orang - yang dikuasai kelancangan - menilai bahwa,
 
pelatihan jiwa adalah sesuatu yang berat. Dan, menyangka bahwa akhlaq pembentukannya tak bisa diubah sebagaimana tak dapat diubahnya bentuk lahiriah.

          Dan jawabannya: 

          Jika akhlaq tak bisa diubah, maka tak akan ada artinya berbagai nasehat dan wasiat. 

          Bagaimanalah Anda mengingkari pengubahan akhlaq, sedangkan kita melihat 
hewan buruan yang semula liar, berubah menjadi jinak
Anjing diajari untuk tidak memakan hewan buruannya
Kuda diajari untuk berjalan dengan baik dan tunduk kepada majikannya.

          Namun, memang 

✓ sebagian tabiat bisa dengan cepat menerima perbaikan, sedangkan
✓ sebagian yang lain sulit menerimanya.

          Adapun bayangan tentang keyakinan bahwa watak itu tak bisa berubah, ketahuilah bahwasannya

bukan menjadi tujuan menghilangkan sifat-sifat secara total. 

          Namun, yang dituntut dari latihan jiwa adalah; 

mengembalikan syahwat kepada keadaan seimbang yang pertengahan, yakni antara sikap berlebihan dan sikap meremehkan. 
Sehingga menghilangkan sifat-sifat tersebut bukanlah tujuan latihan jiwa. 

          Bagaimana tidak? 

          Syahwat diciptakan untuk faedah yang sangat dibutuhkan dalam watak. 

> Jika syahwat terhadap makanan hilang, tentu manusia akan binasa. 
> Atau ketika syahwat untuk melakukan hubungan suami-istri telah hilang, maka keturunanpun akan terputus. 
> Dan, jika amarah hilang secara total, seorang manusia tak akan bisa membela dirinya dari apa-apa yang akan membinasakannya.

          Allah ta'ala telah berfirman, 
          "(Orang-orang yang bersama Nabi itu) sangat keras terhadap orang-orang kafir." (Al-Fath: 29) 

          Sikap keras tidaklah muncul melainkan dari kemarahan. Jika amarah telah hilang, hilang pula jihad terhadap orang kafir.

Allah ta'ala juga berfirman,
"Dan orang-orang yang meredam kemarahan mereka." (Ali 'Imran: 134)
Allah ta'ala tidak mengatakan, "... dan orang-orang yang telah hilang kemarahan mereka."

        Demikian pula yang dikehendaki dari syahwat terhadap makanan, yakni sikap pertengahan tidak rakus dan tidak pula terlalu sedikit.

         Allah ta'ala berfirman, 
         "Makan dan minumlah kalian, tetapi jangan berlebihan." (Al-A'raf: 31)

         Namun, sesungguhnya bila seorang guru pembimbing melihat muridnya memiliki kecenderungan kepada amarah dan syahwat, sebaiknya sang guru mencela kedua KARAKTER (sifat - akhlaq - ed.) tersebut secara mutlak dan untuk menghendaki murid tersebut kepada sikap pertengahan.

         Hal yang menunjukkan bahwa yang diinginkan latihan jiwa adalah sikap pertengahan ialah, bahwasannya sifat kedermawanan itu akhlaq yang dituntut oleh syariat. Kedermawanan adalah sifat pertengahan di antara sifat kikir dan sifat boros.

          Allah ta'ala memuji sifat tersebut dengan firman-Nya,
          "Dan orang-orang yang ketika membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi bersikap tengah di antara keduanya." (Al-Furqan: 67).

          Ketahuilah, sesungguhnya sikap pertengahan ini, terkadang terlahir dengan kesempurnaan fitrah anugerah dari Sang Maha Pencipta. Betapa banyak anak kecil yang berakhlaq jujur, dermawan dan santun. 

         Namun, terkadang sikap pertengahan tersebut dapat dihasilkan dengan adanya; 
  • usaha. Dan yang demikian itu, 
  • dengan latihan jiwa

Caranya (latihan jiwa) tersebut adalah: 

  • membawa diri seseorang kepada amalan-amalan yang akan memunculkan akhlaq yang diinginkan. 
  • Orang yang menginginkan mendapatkan akhlaq berkualitas harus berusaha sekuat tenaga mengerjakan perbuatan akhlaq yang berkualitas, 
  • agar perilaku tersebut menjadi karakter (sifat - akhlaq - ed.) baginya. 
         Demikian pula, 

orang yang menginginkan sifat tawadhu (rendah hati), mesti sekuat tenaga mengerjakan perilaku perbuatan-perbuatan orang-orang tawadhu. Demikian pula, semua akhlaq terpuji.

         Maka, sesungguhnya 

KEBIASAAN itu berpengaruh dalam pembentukan AKHLAK  seseorang.

          Seperti, bahwasannya 

seseorang ingin menjadi seorang penulis, maka hendaknya ia menyibukkan diri dengan menulis. Atau seseorang ingin 

menjadi ahli fikih, maka ia mesti menyibukkan diri KEBIASAAN ahli fikih BERULANG-ULANG, sampai sifat fikih melekat pada kalbunya.

         Namun, sesungguhnya seseorang itu tidak sepantasnya berharap mendapatkan hasil dari usahanya itu hanya dalam dua atau tiga hari. Dan, hasil tersebut akan diperoleh dengan usaha yang TERUS MENERUS, layaknya pertumbuhan fisik tidaklah didapat hanya dalam waktu dua atau tiga hari. 

Usaha yang berkesinambungan akan memberi pengaruh (PERUBAHAN - ed.) yang besar.

         Oleh karena itu, 

tidak sepantasnya untuk menganggap remeh amalan-amalan ketaatan yang SEDIKIT (kecil - ed.). Sebab, jika dilakukan terus menerus, akan memberi pengaruh (perubahan - ed.) baik

Begitu pula, jangan menganggap remeh dosa-dosa walaupun sedikit. (Dosa sedikit - kecil - yang dilakukan terus-menerus berulang-ulang pun akan menjadi karakter - sifat - akhlak buruk - ed.)

         Dan, menekuni sebab-sebab keutamaan-keutamaan karakter akan berpengaruh pada jiwa, dan bahkan akan MENGUBAH WATAK seseorang

         Maka, demikian pula mendiamkan (menetapkan - tidak berusaha menghilangkan - ed.) sifat malas bisa menjadi KEBIASAAN juga, menjadikan terhalangnya dari sebab semua kebaikan.

         Sungguh, akhlaq baik bisa diupayakan dengan bergaul dengan orang-orang baik. Sebab bahwasanya, tabiat itu ibarat pencuri (seperti setan "sang pencuri" - ed.) yang mencuri kebaikan atau keburukan.

         Saya katakan, 
          "Yang demikian itu ditegaskan pada sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam, 'Seseorang itu atas (mengikuti) agama teman dekatnya, maka dari itu hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan orang yang dijadikan teman dekatnya.

          Selanjutnya kita akan menuju pasal berikutnya, Pasal Kedua: Penjelasan Jalan (langkah-langkah) Menuju Perbaikan Akhlaq.

Bibliografi

  • Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin - Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
  • Buku terjemahan - Mukhtashar Minhajul Qashidin - At-Tuqa
  • Kajian Islam Mukhtashar Minhajul Qashidin - Al-Ustadz Qomar ZA, Lc - Masjid Umar Ibnul Khaththab, Ponpes Darul Atsar, Kedu, Temanggung

Mukhtashar Minhajul Qashidin
Belajar dengan Menulis Saban Hari

***

WhatsApp Salafy Asyik Belajar dan Menulis

Posting Komentar untuk "#05 Pasal Pertama: Mengubah Akhlaq, Bisa! - Insya Allah "

Menjadi Terampil Menulis
Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Menulis Cerita

Kisah Nyata
rasa Novel


Bahasa Arab
Nahwu
Mutammimah

Bahasa Arab
Sharaf
Kitabut Tashrif

Menulis Cerita Lanjutan

Biografi Inspiratif

Bahasa Indonesia
Belajar
Kalimat

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel


Bahasa Indonesia
Belajar
Kata

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

Disalin oleh belajar.icu
Blog Seputar Mendesain Kebiasaan Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya,
mudah, sedikit demi sedikit,
dan
saban hari.