Widget HTML #1

#07 Pasal Ketiga: Tanda-tanda Penyakit Kalbu, dan Bagaimana Mengobatinya untuk Sehat Kembali, dan Penjelasan Cara Manusia Mengetahui Aib-aib (kekurangan-kekurangan) pada Dirinya

          Ketahuilah, sesungguhnya setiap anggota badan diciptakan untuk mengerjakan perbuatan tersendiri. Oleh karena itu, tanda sakitnya pada anggota badan tersebut adalah ketidakmampuan melaksanakan perbuatan khusus tersebut, atau muncul darinya suatu jenis ketimpangan.

         Penyakit pada tangan, adalah ketidakmampuan memegang dengan kuat. Dan, penyakit pada mata adalah ketidakmampuan pada penglihatan. Demikian pula, 

penyakit pada kalbu adalah ketidakmampuannya pada perbuatan khusus yang menjadi tujuan penciptaannya. Yaitu, 

ilmu
hikmah
makrifah (mengenal Allah)
mencintai Allah
beribadah kepada-Nya, serta
mengutamakan semua tugas tersebut di atas semua syahwat (keinginan) nya.

         Oleh karena itu,

seseorang manusia yang mengetahui segala sesuatu, tetapi tidak mengenal Allah ta'ala, seolah-olah dia tak mengetahui sesuatu apapun.

          Tanda-tanda mengenal (makrifah) Allah ta'ala: cinta kepada Allah
  • Barang siapa mengenal Allah, ia tentu mencintai-Nya. Dan, 
  • tanda kecintaan kepada Allah, adalah tidak mengutamakan atas segala sesuatu dari yang dicintainya - Allah ta'ala.
          Oleh sebab itu, 

barang siapa yang di sisinya lebih ia cintai dari pada Allah ta'ala berarti hatinya sakit

          Seperti, halnya 

lambung yang lebih suka makan tanah dari pada makan roti. Dan, sungguh keinginannya terhadap roti telah hilang - lambung itu berpenyakit.
  • Penyakit kalbu itu tersembunyi, sehingga si pemilik kalbu tak menyadari. Maka, yang demikian itu membuat
  • ia lengah terhadap hal tersebut. Kalaupun ia menyadari, 
  • sulit baginya bersabar atas pahitnya obat. Sebab 
  • obat bagi penyakit kalbu itu menyelisihi hawa nafsu, sehingga 
  • semangatnya untuk berobat hilang.
         Jika ia bersabar, 
  • belum tentu ia mendapatkan "dokter ahli" yang mampu mengobatinya. Karena 
  • dokter ahli penyakit kalbu adalah para ulama.
         Dan, mereka sendiri - para dokter (ulama - ed.) itu - terkadang dikuasai penyakit kalbu juga. Dokter yang berpenyakit - tentu saja - sangat jarang ditoleh untuk dimintai mengobati penyakit kalbu. Akibatnya, penyakit kalbu tersebut menjadi kronis, dan ilmu tentang penyakit kalbu ini lenyap. Maka, ironisnya, tentang pengobatan kalbu-kalbu dan penyakit-penyakitnya ini diingkari.
  • Manusiapun menganggap amalan-amalan lahiriah sebagai ibadah
  • tetapi hakikatnya adalah adat. 
  • Inilah tanda-tanda asal dari segala penyakit kalbu.
        Maka, hendaknya memperhatikan penyakitnya. 

Jika penyakit kalbu adalah penyakit kikir, pengobatannya dengan mendermakan harta. Namun, tanpa berlebihan yang akan menjadi pemborosan, dan akhirnya memunculkan penyakit kalbu yang lain. Jadilah ia seperti orang yang mengobati penyakit yang bersifat dingin dengan sesuatu bersifat panas yang berlebihan. Sehingga panas tersebut menyerangnya menjadi penyakit juga. Jadi yang dimaui adalah sikap pertengahan.

         Jika, Anda ingin mengetahui sikap pertengahan, perhatikan diri Anda. 

Apabila menahan harta dan mengumpulkannya lebih enak (lebih ringan) di sisi Anda dan itu mengekang atas Anda dari pada mendermakannya kepada yang berhak menerimanya. Maka, ketahuilah bahwa yang menguasai diri Anda adalah akhlaq bakhil. Oleh sebab itu obati diri Anda dengan mendermakan harta.

Sebaliknya, jika terjadinya pendermaan harta kepada yang berhak lebih enak (lebih ringan) di sisi Anda, dan Anda lebih takut untuk menahannya, maka sungguh pemborosan telah menguasai atas Anda. Oleh sebab itu kembalilah Anda untuk lebih berupaya menahan harta.

         Selalulah mengawasi diri Anda. Simpulkan pada akhlaq Anda, dengan menjadikan 
  • keringanan dan 
  • keberatan dalam amalan-amalan, 
  • sebagai petunjuk. 
Sehingga keterkaitan kalbu Anda terputus dari harta. Jangan lebih condong kepada mendermakannya atau lebih condong kepada menahannya. Bahkan, jadikan harta itu bagaikan air. Jangan menahannya dari orang yang membutuhkannya, tetapi jangan pula berlebihan mendermakannya.

          Setiap kalbu hendaknya menjadi seperti demikian, sungguh ia menghadap kepada Allah pada kedudukan kalbu yang selamat.

         Dan, hendaknya kalbu selamat dari semua akhlaq tercela, sehingga 
  • kalbu tidak menjadi terkait kepada segala sesuatu dari dunia. Yang pada akhirnya, kalbu terputus keterkaitannya pada dunia tersebut. Tanpa menoleh padanya dan tanpa berselera kepada sebab-sebab untuk mendapatkan dunia. 
  • Maka, ketika jiwa kembali menghadap Rabbnya, kembalinya dalam keadaan jiwa yang tenang (muthmainnah).
         Kemudian, sikap pertengahan yang hakiki berada di antara dua sisi yang begitu tersembunyi. 

Lebih lembut dari pada rambut, dan pada sisi lain lebih tajam dari pada sebilah pedang.

        Maka, 
  • barang siapa yang mampu meniti jalan lurus ini dengan tegak ketika di dunia
  • balasannya seperti ini (yakni berhasil meniti) Ash-Shirath di akhirat
          Karena urusan seorang hamba sangat sulit untuk istiqamah (konsisten), sehingga ia hendaknya berdoa setiap hari berkali-kali,

         "Tunjukilah kami ke jalan yang lurus." (Al-Fatihah: 6)

         Dan, barang siapa belum mampu untuk istiqamah (konsisten), maka hendaknya ia berusaha bersungguh-sungguh mendekati (sebab-sebab) untuk istiqamah. Sesungguhnya keselamatan itu dengan amalan shalih.

         Dan tidaklah amal-amal saleh itu muncul kecuali dari akhlaq-akhlaq yang baik. Oleh karena itu, setiap hamba hendaknya, 
  • memeriksa sifatnya dan akhlaqnya, serta 
  • sibuk mengobati mereka satu demi satu. 
  • Dan, hendaknya bersabar untuk memiliki tekad terhadap pedihnya perkara ini. 
         Maka, sesungguhnya ia akan merasa manis

seperti manisnya penyapihan bagi bayi yang padahal sebelumnya hal tersebut tak disukainya. Setelah penyapihan, seandainya bayi disodori penyusuan, maka ia akan tak menyukainya.

Barang siapa menyadari pendeknya umur dibandingkan dengan lamanya kehidupan akhirat, ia sanggup menanggung beratnya perjalanan yang hanya beberapa hari demi menggapai kenikmatan yang abadi.

          "Ketika pagi hari tiba, orang-orang pun bersyukur terhadap perjalanan mereka semalam."

Bibliografi

  • Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin - Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
  • Buku terjemahan - Mukhtashar Minhajul Qashidin - At-Tuqa
  • Kajian Islam Mukhtashar Minhajul Qashidin - Al-Ustadz Qomar ZA, Lc - Masjid Umar Ibnul Khaththab, Ponpes Darul Atsar, Kedu, Temanggung

Mukhtashar Minhajul Qashidin
Belajar dengan Menulis Saban Hari

***

WhatsApp Salafy Asyik Belajar dan Menulis

Posting Komentar untuk "#07 Pasal Ketiga: Tanda-tanda Penyakit Kalbu, dan Bagaimana Mengobatinya untuk Sehat Kembali, dan Penjelasan Cara Manusia Mengetahui Aib-aib (kekurangan-kekurangan) pada Dirinya"

Menjadi Terampil Menulis
Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Menulis Cerita

Kisah Nyata
rasa Novel


Bahasa Arab
Nahwu
Mutammimah

Bahasa Arab
Sharaf
Kitabut Tashrif

Menulis Cerita Lanjutan

Biografi Inspiratif

Bahasa Indonesia
Belajar
Kalimat

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel


Bahasa Indonesia
Belajar
Kata

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

Disalin oleh belajar.icu
Blog Seputar Mendesain Kebiasaan Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya,
mudah, sedikit demi sedikit,
dan
saban hari.